Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Harga Pangan Naik, Pedagang Kecil Terdampak Omzet Turun 20 Persen

Kenaikan harga bahan pokok menyebabkan omzet pedagang kecil turun hingga 20 persen, dengan penjual sayur dan warung nasi keluhkan tekanan biaya dan daya beli pelanggan yang menurun.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 22 Oktober 2026, 15.44 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 65x dibuka
Harga Pangan Naik, Pedagang Kecil Terdampak Omzet Turun 20 Persen📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pedagang kecil di wilayah Tangerang mengeluhkan tekanan ekonomi akibat kenaikan harga komoditas pangan yang signifikan dalam beberapa hari terakhir. Kholifah, pedagang sayur di Pasar Anyar, menyebut harga cabai rawit merah naik dari Rp60 ribu menjadi Rp90 ribu per kilogram, sementara cabai rawit hijau dan keriting juga mengalami kenaikan masing-masing Rp20 ribu dan Rp35 ribu. Selain cabai, tomat dan mentimun naik Rp5 ribu per kilogram, mencapai Rp18 ribu, sedangkan lemon dan jeruk nipis mengalami kenaikan Rp10 ribu. Sawi putih, sawi hijau, dan kubis juga mengalami kenaikan sekitar Rp5 ribu.

Menurut Kholifah, kenaikan harga ini terjadi dalam tiga hingga empat hari terakhir, diduga akibat musim kemarau panjang yang mengganggu produksi pertanian dan menyebabkan gagal panen. Dampak langsungnya adalah penurunan daya beli pelanggan. Ia menyebut sebelumnya pelanggan membeli sayuran hingga 1 kilogram, kini hanya sekitar setengah kilogram. Akibatnya, omzet pedagang anjlok hingga lebih dari 20 persen, yang membuatnya kesulitan menjaga kelangsungan usaha.

Pedagang warung nasi (Warteg) di Jalan Darusallam II, Andini, juga mengalami tekanan serupa. Ia menyebut harga beras naik dari Rp600 ribu per 50 kg menjadi Rp750 ribu, minyak goreng naik dari Rp14 ribu menjadi Rp19 ribu per liter, serta bumbu seperti bawang putih, kemiri, dan serai mengalami kenaikan harga yang merata. Ia mengaku tidak mampu menaikkan harga jual karena takut kehilangan pelanggan.

Untuk menjaga kualitas produk, Andini memilih tidak mengurangi takaran bumbu meski biaya produksi melonjak. Ia rela menurunkan keuntungan harian dari Rp300 ribu menjadi Rp200 ribu demi menjaga loyalitas pelanggan. Menurutnya, kehilangan kualitas akan berisiko merusak reputasi usaha dalam jangka panjang.

Para pedagang meminta pemerintah melakukan intervensi lebih intensif untuk menstabilkan harga pangan, terutama bagi kelompok ekonomi lemah yang paling terdampak. Mereka berharap kebijakan yang tepat dapat mencegah pelemahan daya beli dan menjaga stabilitas ekonomi mikro di tengah tekanan inflasi yang terus berlanjut.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya