Senin, 28 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Hilirisasi Pangan Dorong UMKM Naik Kelas

Pemerintah memperkuat hilirisasi pangan lokal melalui dukungan teknologi dan peralatan untuk tingkatkan nilai tambah produk UMKM.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 28 September 2026, 17.54 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Hilirisasi Pangan Dorong UMKM Naik Kelas📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah kini mempercepat transformasi sektor pangan dengan fokus pada hilirisasi komoditas lokal seperti sorgum dan singkong. Melalui pendekatan pengolahan berbasis teknologi, produk pangan yang sebelumnya hanya dipasarkan dalam bentuk mentah atau segar kini dikembangkan menjadi olahan siap konsumsi dengan masa simpan lebih panjang dan kualitas yang terjaga. Langkah ini sejalan dengan upaya meningkatkan daya saing UMKM sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional menegaskan bahwa seluruh proses produksi harus dilakukan secara lokal, mulai dari petani sebagai produsen bahan baku hingga UMKM sebagai pengolah. Dengan memanfaatkan teknologi seperti freeze dryer, produk olahan berbasis sorgum—seperti nasi, bubur, dan sari—dapat dipertahankan kualitas gizinya dalam waktu lebih lama. Pendekatan ini juga diharapkan mendorong UMKM untuk melampaui pasar lokal dan masuk ke wilayah yang lebih luas.

Bantuan peralatan produksi telah diberikan secara langsung ke pelaku usaha, termasuk mesin parut, drum pencuci, alat pengering konveyor, ayakan, heat exchanger, dan bak penampung. Di Desa Tajur, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, UMKM pengolah singkong mulai beralih dari metode tradisional ke proses mekanis yang lebih higienis dan efisien. Andi, salah satu pelaku UMKM, menyebut perubahan ini menaikkan kualitas produk secara signifikan dan membuka peluang ekspansi ke produk turunan seperti tepung tapioka dan mocaf.

Peningkatan kapasitas teknologi harus didukung oleh standarisasi, keamanan pangan, kemasan modern, akses pembiayaan, serta kolaborasi dengan pemerintah daerah. Menurut data Kementerian Perindustrian, industri pengolahan tumbuh 5,3 persen pada 2025—melampaui pertumbuhan ekonomi nasional—dengan kontribusi terhadap PDB mencapai 19,07 persen. Sektor makanan dan minuman, khususnya IKM, menjadi penopang utama, menyumbang 39,7 persen dari total unit usaha dan menyerap 36,5 persen tenaga kerja IKM.

Dengan membangun rantai nilai yang terintegrasi, pemerintah berharap komoditas lokal tidak lagi hanya dijual sebagai bahan mentah dengan margin rendah. Melalui hilirisasi, produk pangan lokal dapat menjadi komoditas bernilai tambah yang kompetitif di pasar nasional dan global. Upaya ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan petani dan UMKM, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi dan penguatan ekosistem pangan berkelanjutan di tingkat daerah.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya