Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Anjlok 11,57% Usai BEI Hentikan Perdagangan

Indeks Harga Saham Gabungan turun 11,57% ke level 5.185 setelah bursa hentikan perdagangan sementara akibat tekanan jual massal dan pengumuman konsultasi MSCI soal perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 17 Oktober 2026, 09.21 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 116x dibuka
IHSG Anjlok 11,57% Usai BEI Hentikan Perdagangan📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penurunan tajam sebesar 11,57% pada penutupan perdagangan Jumat (16/10), merosot ke level 5.185 dari posisi sebelumnya. Penurunan ini setara dengan kerugian 678,67 poin, menandai salah satu hari terberat dalam sejarah pasar modal domestik dalam beberapa bulan terakhir. Tekanan jual menyebar luas, dengan 775 saham mengalami pelemahan, hanya 10 saham yang menguat, dan 10 lainnya stagnan. Volume perdagangan mencapai 68,56 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp31,92 triliun, menunjukkan tingginya aktivitas spekulatif dan reaksi emosional investor.

Perdagangan sempat dihentikan selama 30 menit pada pukul 08.58 WIB, setelah IHSG anjlok 8,01% ke level 5.393,92 pada awal sesi. Keputusan trading halt dikeluarkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai respons terhadap fluktuasi ekstrem. Sesuai aturan, penghentian dilakukan saat terjadi penurunan sebesar 8% dalam satu sesi. Setelah jeda, perdagangan kembali dibuka, namun IHSG tetap berada di zona merah dengan pelemahan 10,76% pada penutupan sesi pertama. Sektor barang baku menjadi yang paling terdampak, merosot 13,26% dibandingkan sektor lainnya.

Pemicu utama koreksi tajam berasal dari pengumuman konsultasi oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait rencana perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia. MSCI memulai proses konsultasi dengan pelaku pasar mengenai usulan memindahkan Indonesia dari kategori pasar berkembang (emerging market) ke kategori pasar mandiri (standalone market). Alasan utama yang disebutkan mencakup ketidakjelasan struktur kepemilikan saham, kekhawatiran terhadap perilaku perdagangan terkoordinasi, serta kurangnya kemajuan konsisten dalam reformasi pasar.

BEI mengaku terkejut dengan kecepatan pengumuman MSCI, yang muncul hampir sebulan lebih awal dari jadwal biasa. Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi menyatakan bahwa biasanya konsultasi dilakukan satu hingga dua pekan sebelum pengumuman final yang direncanakan pada awal November. “Kami juga terkejut, banyak pihak terkejut. Kok bisa jauh lebih awal?” ujar Iding. Bursa kini akan meminta klarifikasi teknis dari MSCI dan memperkuat bukti efektivitas kebijakan yang telah diterapkan untuk menjawab kekhawatiran investor global.

Meski status pasar Indonesia belum berubah, keputusan final akan diumumkan paling lambat akhir Juni 2027. Jika perubahan klasifikasi diterapkan, saham Indonesia tidak lagi termasuk dalam indeks utama MSCI untuk pasar berkembang, yang berdampak pada aliran modal asing. Indeks tersebut menjadi acuan utama bagi manajer investasi dan dana pensiun internasional. MSCI menilai kelayakan pasar dari berbagai aspek, termasuk likuiditas, tata kelola, regulasi, dan risiko operasional.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya