Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Anjlok 8%, Pakar Soroti Kredibilitas Pasar Modal

Pelemahan tajam IHSG ke level 5.393 memicu kekhawatiran soal integritas pasar saham, dengan ekonom menekankan perlunya reformasi tata kelola dan transparansi kepemilikan untuk menjaga kepercayaan investor global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 16 Oktober 2026, 23.30 WITA·👁 4 orang membaca· 0 hari ini · 190x dibuka
IHSG Anjlok 8%, Pakar Soroti Kredibilitas Pasar Modal📷 Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Kondisi pasar saham Indonesia yang mengalami penurunan tajam, ditandai anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lebih dari 8% ke level 5.393, menjadi bahan pertimbangan serius bagi para pakar ekonomi. Aksi jual massal yang mengakibatkan penghentian sementara perdagangan selama hampir dua menit menunjukkan ketegangan yang mendalam di pasar modal, terutama di tengah upaya klasifikasi ulang pasar oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) dari emerging market menuju standalone market.

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Didik J. Rachbini menyoroti bahwa tekanan pasar ini bukan sekadar fluktuasi teknis, melainkan cerminan dari kekhawatiran mendalam terhadap kelayakan investasi dan kredibilitas sistem tata kelola pasar. Ia menegaskan bahwa pemulihan kepercayaan investor tidak bisa hanya dilakukan melalui peraturan formal, tetapi harus dibuktikan dengan praktik perdagangan yang adil dan harga saham yang mencerminkan realitas pasar.

Kekhawatiran terbesar muncul dari kesenjangan antara regulasi yang ada dan pelaksanaannya di lapangan. Meskipun aturan mengenai batas minimum free float dan kewajiban pengungkapan kepemilikan saham atas 1% telah diterapkan, keberhasilan sistem ini dinilai bergantung pada transparansi dan konsistensi pelaksanaan. Didik menekankan perlunya evaluasi independen untuk mengukur dampak nyata dari kebijakan tersebut terhadap kualitas perdagangan harian.

Ia memperingatkan bahwa jika tidak ada perbaikan nyata dalam likuiditas, pengungkapan kepemilikan yang jelas, serta tata kelola Bursa Efek Indonesia yang lebih akuntabel, maka risiko keluarnya modal asing akan semakin tinggi. Dalam konteks global, ketidakpercayaan terhadap pasar modal domestik dapat mengganggu stabilitas ekonomi politik nasional, terlebih saat Indonesia sedang berada dalam proses menarik perhatian investor internasional.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya