Rabu, 7 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Melemah 0,75% ke Level 6.146 Akibat Tekanan Jual di Sektor Energi

Indeks Harga Saham Gabungan turun 46,20 poin atau 0,75% ke level 6.146,72 pada perdagangan Rabu (7/10/2026), dipengaruhi pelemahan saham utama dan penurunan sektor energi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 7 Oktober 2026, 21.20 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
IHSG Melemah 0,75% ke Level 6.146 Akibat Tekanan Jual di Sektor Energi📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah pada perdagangan hari ini, menutup sesi di posisi 6.146,72, melemah 46,20 poin dari penutupan sebelumnya. Meski sempat menguat pada awal sesi hingga menyentuh level 6.214,76, tekanan jual yang muncul seiring waktu menyebabkan indeks berbalik arah dan bergerak turun hingga mencapai level terendah harian di 6.136,19. Pergerakan indeks cenderung sideways menjelang penutupan, berada dalam rentang 6.140 hingga 6.160.

Pelemahan IHSG dipicu oleh dominasi saham yang turun, dengan 390 emiten melemah, 293 tidak bergerak, dan hanya 280 yang menguat. Sejumlah sektor utama turut menyumbang penurunan, terutama energi yang anjlok 2,6%, diikuti infrastruktur turun 1,8% dan material dasar merosot 0,8%. Saham-saham yang menjadi penekan utama antara lain BYAN, BBCA, DSSA, BREN, BRPT, dan TPIA. Di sisi lain, emiten seperti BBRI, TLKM, AMMN, SMMA, CASA, dan BMRI mampu menahan tekanan dan menjadi penopang indeks.

Volume perdagangan hari ini mencapai 366,37 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp8,65 triliun. Aktivitas pasar terpantau stabil, namun sentimen tetap terpengaruh oleh dinamika eksternal. Perkembangan defisit perdagangan AS menjadi perhatian, sementara proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif memberi ruang optimisme. Investor kini menantikan rilis data cadangan devisa Indonesia untuk menilai ketahanan eksternal dan stabilitas nilai tukar rupiah.

Kesempatan penting lainnya datang dari rilis risalah rapat The Fed yang dijadwalkan terbit dini hari besok pukul 01.00 WIB. Dokumen tersebut akan mengungkap pembahasan di balik keputusan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00%, yang merupakan kenaikan pertama sejak 2023. Pasar akan mencermati sinyal dari pejabat The Fed mengenai inflasi dan kemungkinan pengetatan lanjutan. Dari 18 pejabat, 16 di antaranya memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga lagi tahun ini. Sinyal ketat berpotensi menopang dolar dan menekan aset berisiko, sementara penekanan pada risiko perlambatan dapat mengurangi ketegangan pasar.

Di kawasan Asia, bursa saham bergerak bervariasi. Nikkei 225 Jepang cenderung datar, Kospi Korea Selatan turun 0,57%, dan S&P/ASX 200 Australia melemah 0,13%. Pergerakan ini berbeda dari Wall Street yang terdampak oleh perubahan imbal hasil obligasi AS, menunjukkan ketidakseragaman sentimen pasar global.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya