Rabu, 7 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah Tipis di Akhir Pekan, Dolar AS Berada di Rp17.875

Nilai tukar rupiah berakhir di Rp17.875 per dolar AS, menguat sedikit dari posisi sebelumnya, seiring tekanan eksternal dan pergerakan cadangan devisa BI.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 7 Oktober 2026, 21.20 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Rupiah Melemah Tipis di Akhir Pekan, Dolar AS Berada di Rp17.875📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah menguat tipis pada penutupan perdagangan Rabu (7/10/2026), menunjukkan penguatan ringan dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp17.875 per dolar AS, menguat 0,08% dibandingkan posisi Selasa (6/10/2026) yang berada di Rp17.890. Pergerakan ini mencatatkan perbaikan lanjutan setelah sebelumnya juga menguat pada hari sebelumnya, meski penguatan tidak terjaga sepanjang hari.

Awal perdagangan dibuka lebih kuat di Rp17.820 per dolar AS, namun selama sesi, rupiah kehilangan sebagian keunggulannya dan berakhir di angka Rp17.875. Pergerakan ini dipengaruhi oleh dinamika pasar global dan sentimen domestik, termasuk kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Indeks dolar AS (DXY) justru menguat 0,35% ke level 102,186 pada pukul 15.00 WIB, menunjukkan kenaikan kekuatan greenback terhadap mata uang utama lainnya.

Cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 tercatat sebesar US$146,3 miliar, turun US$200 juta dari posisi akhir Agustus yang sebesar US$146,5 miliar. Penurunan ini disebabkan oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo, penarikan pinjaman luar negeri, serta pengelolaan penerimaan pajak dan jasa. BI menyatakan bahwa langkah-langkah stabilisasi nilai tukar tetap dilakukan meski menghadapi tekanan pasar global yang tinggi.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menegaskan bahwa kebijakan BI tetap berfokus pada menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, terlepas dari dinamika pasar global. Cadangan devisa saat ini masih cukup untuk menutup pembiayaan impor selama 5,3 bulan, atau 5,2 bulan jika termasuk pembayaran utang luar negeri pemerintah—masih di atas ambang batas internasional yang dianjurkan, yaitu tiga bulan impor.

Di sisi eksternal, pasar menantikan rilis risalah pertemuan FOMC bulan September yang dijadwalkan Kamis (8/10/2026), sebagai acuan arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve. Sementara itu, harga minyak dunia naik akibat ancaman gangguan pasokan, dengan minyak Brent mencapai US$101,39 per barel dan WTI di US$90,05 per barel, didorong oleh badai di Teluk Meksiko dan peningkatan ketegangan di Arab Saudi akibat serangan kelompok Houthi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya