Rabu, 7 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Indonesia Kaya Gas, Tapi Masih Impor LPG

Kekayaan gas alam Indonesia tidak menyebabkan penghentian impor LPG karena keterbatasan komposisi gas bumi yang tidak sesuai untuk produksi LPG domestik.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 7 Oktober 2026, 21.21 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Indonesia Kaya Gas, Tapi Masih Impor LPG📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indonesia memiliki potensi gas bumi yang melimpah, bahkan mampu mengekspor liquefied natural gas (LNG) hingga 30 persen dari total produksi. Namun, meski kaya akan sumber energi, negara tetap harus mengimpor liquefied petroleum gas (LPG) dalam jumlah besar setiap tahun. Total kebutuhan nasional mencapai 8,5 hingga 9 juta ton, dengan sekitar 7 juta hingga 7,5 juta ton dipenuhi melalui impor. Sisanya diproduksi secara domestik oleh industri dalam negeri.

Alasannya terletak pada komposisi gas alam yang dominan di dalam negeri. Mayoritas gas yang diekstraksi adalah metana (C1) dan etana (C2), sementara bahan baku utama untuk LPG adalah propana (C3) dan butana (C4). Karena kandungan C3 dan C4 masih terbatas, maka produksi LPG dalam negeri terbatas, sehingga ketergantungan terhadap impor tetap tinggi.

Untuk mengurangi ketergantungan impor, pemerintah menekankan perlunya konversi energi dan eksplorasi sumber daya alam yang sesuai dengan kebutuhan produksi LPG. Upaya ini sejalan dengan arahan Presiden untuk mencapai kedaulatan energi nasional. Salah satu langkah konkret yang telah dilakukan adalah program B50, yang telah berhasil diterapkan dan menjadi fondasi strategis dalam transformasi energi.

Pemerintah berkomitmen untuk terus memetakan dan mengembangkan sumber gas yang memiliki kandungan C3 dan C4 secara lebih intensif. Dengan pendekatan ini, diharapkan produksi LPG domestik dapat meningkat secara signifikan dalam jangka menengah, sehingga mengurangi beban impor dan meningkatkan kemandirian energi nasional.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya