Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Menguat di Tengah Tekanan Global yang Mereda

Pasar keuangan Indonesia menunjukkan kekuatan pada sesi pertama, didorong pelemahan dolar AS dan imbal hasil obligasi AS, sementara data ekonomi global menjadi fokus utama.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 14 Oktober 2026, 15.22 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 27x dibuka
IHSG Menguat di Tengah Tekanan Global yang Mereda📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks harga saham gabungan (IHSG) bergerak positif pada akhir sesi pertama perdagangan, mencatat kenaikan 0,82% seiring meredanya tekanan dari pasar global. Pelemahan indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi pendorong utama, dengan DXY turun 0,37% ke level 102,18, berada di bawah posisi tertinggi dalam 18 bulan terakhir. Sementara itu, yield obligasi AS tenor 10 tahun turun 2,3 basis poin menjadi 5,217%, mencerminkan pergeseran sentimen investor yang mulai mempertimbangkan kembali aset berisiko di negara berkembang.

Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan World Economic Outlook edisi Oktober 2026 memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan mencapai 3,1% pada 2026, melambat dari 3,5% pada 2025, namun sedikit lebih tinggi dibanding proyeksi sebelumnya. Proyeksi ini diperbaiki menjadi 3,4% untuk 2027, sementara inflasi global diperkirakan naik ke 4,7% pada 2026 sebelum menurun ke 4,1% pada 2027. IMF menekankan risiko bagi negara berkembang berpendapatan rendah akibat lonjakan harga energi, terutama yang dipicu ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Di Asia, China akan merilis data inflasi konsumen (IHK) dan inflasi produsen untuk bulan September 2026. IHK China pada Agustus 2026 naik 0,8% secara tahunan dari 0,5% pada Juli, didorong kenaikan harga transportasi, layanan kesehatan, pendidikan, dan perumahan, meskipun harga pangan tetap turun selama lima bulan berturut-turut. Inflasi inti naik menjadi 1,0% dari 0,9% pada Juli, sementara kenaikan bulanan IHK mencapai 0,4%, melampaui perkiraan pasar. Di sisi lain, neraca dagang China pada Agustus 2026 mencatat surplus sebesar US$119,09 miliar, meningkat dari US$101,01 miliar tahun sebelumnya, dengan ekspor melonjak 25% dan impor naik 28,2%.

Pasar kini menantikan rilis data inflasi AS untuk bulan September 2026, yang akan menjadi rujukan utama bagi The Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Inflasi tahunan AS pada Agustus 2026 tetap stabil di 3,4%, sementara inflasi bulanan naik 0,4% — tertinggi dalam tiga bulan terakhir, didorong oleh kenaikan harga bensin. Inflasi inti juga naik 0,3% bulanan, lebih tinggi dari perkiraan, namun secara tahunan melambat menjadi 2,4% dari 2,5%, menjadi level terendah sejak Maret 2021. Data ini akan menentukan sejauh mana ekspektasi kenaikan suku bunga di masa depan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya