Kamis, 17 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Menguat Meski Tekanan Global Meningkat

Indeks saham domestik naik 0,40% ke level 6.462, didukung kenaikan sektor konsumer dan teknologi, meski terkendala sentimen dari kenaikan suku bunga AS dan ketegangan di Timur Tengah.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 17 September 2026, 19.35 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 3x dibuka
IHSG Menguat Meski Tekanan Global Meningkat📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup perdagangan Kamis (17/9/2026) dengan penguatan signifikan, mencapai level 6.462,43, naik 25,58 poin atau 0,40% dibanding penutupan sebelumnya. Pergerakan indeks sempat berada di kisaran 6.418 hingga 6.500 sebelum akhirnya menguat di sesi kedua. Dari total 800 saham yang diperdagangkan, sebanyak 384 menguat, 244 melemah, dan 164 stagnan. Volume perdagangan mencapai 28,52 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp13,92 triliun dan frekuensi perdagangan mencapai 1,86 juta kali.

Penguatan didorong oleh kenaikan di sektor konsumer, energi, dan teknologi, yang menjadi penopang utama pergerakan positif. Sementara itu, sektor kesehatan, properti, utilitas, dan barang baku mengalami tekanan penurunan. Emiten seperti BMRI, DSSA, DCII, BYAN, dan VKTR menjadi pendorong utama kenaikan indeks hari ini. Kenaikan ini terjadi setelah sehari sebelumnya IHSG sempat melemah 0,38%, dengan pergerakan awal yang kuat namun berbalik ke zona merah menjelang penutupan.

Dorongan pasar domestik terjadi di tengah kondisi global yang menekan. The Federal Reserve (The Fed) resmi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4%, pertama kalinya sejak Juli 2023, dengan 16 dari 18 pejabat memperkirakan adanya kenaikan tambahan hingga akhir tahun. Keputusan ini memicu lonjakan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun ke 5,004%, tertinggi sejak Juli 2007, serta menaikkan indeks dolar AS ke level 100,252, tertinggi sejak 12 Agustus 2026. Kondisi ini meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar, berpotensi mengurangi aliran modal ke pasar negara berkembang.

Tambahan tekanan datang dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Bab el-Mandeb, yang diklaim telah dikuasai oleh kelompok Houthi. Jalur strategis ini merupakan bagian penting dari rantai pasok minyak global bersama Selat Hormuz. Perkembangan tersebut memperbesar risiko gangguan distribusi energi, yang dapat menopang harga minyak dan berdampak pada inflasi global. Di sisi lain, desakan dari Presiden AS Donald Trump untuk menurunkan suku bunga secara agresif hingga di bawah 1% menambah ketidakpastian arah kebijakan moneter global.

Di dalam negeri, pasar menanti sejumlah kebijakan penting, termasuk penerapan PPh untuk pedagang online melalui marketplace mulai 1 Oktober 2026, serta langkah tegas OJK terhadap emiten yang melanggar regulasi pasar modal. Sementara itu, pelaku pasar global akan memantau data klaim pengangguran AS, inflasi Zona Euro Agustus 2026, dan keputusan suku bunga Bank of England, yang dapat menjadi indikator arah kebijakan moneter global selanjutnya.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya