Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Menguat Pagi Ini, Regulator Siapkan Reformasi Struktural

Indeks saham utama Indonesia menguat pada awal pekan, didorong oleh langkah regulator dan kembali optimisme pasar global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 23 Oktober 2026, 12.03 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 31x dibuka
IHSG Menguat Pagi Ini, Regulator Siapkan Reformasi Struktural📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan hari ini dengan kenaikan tipis, mencatat penguatan 9,44 poin atau 0,18 persen ke level 5.397,34. Pergerakan positif ini terjadi setelah pasar menunjukkan tanda-tanda pemulihan pasca-koreksi tajam pada akhir pekan lalu. Sementara itu, Indeks LQ45 juga menguat tipis 0,56 poin, berada di posisi 545,13, mencerminkan kembali minat investor terhadap saham-saham unggulan.

Regulator pasar modal, Bursa Efek Indonesia (BEI), mengumumkan sejumlah inisiatif strategis yang akan berdampak jangka panjang. Salah satunya adalah pengecualian saham kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026. Saat ini terdapat 80 saham yang masuk kategori HSC, sebagian besar terkait pelanggaran aturan pasar modal. BEI telah menyerahkan surat sanksi kepada emiten seperti DSSA, BREN, dan CUAN sebagai tindak lanjut dari temuan pelanggaran.

Di sisi teknis, analis memperkirakan IHSG akan berupaya menembus level resistance 5.400 jika mampu bertahan di atas level 5.300, yang menjadi support utama. Jika terjadi tekanan jual, area 5.180–5.200 diproyeksikan sebagai lini pertahanan selanjutnya. BEI juga memperkenalkan keterangan afiliasi saham bagi pemegang saham dengan kepemilikan 1 persen, sebagai upaya meningkatkan transparansi pasar. Langkah ini sejalan dengan konsultasi global yang digelar MSCI terkait rencana perubahan klasifikasi pasar Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market.

Di pasar global, kenaikan harga minyak Brent hingga 99 dolar AS per barel pada Kamis (22/10) memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi, terutama akibat eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Serangan baru oleh kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap infrastruktur Arab Saudi memperburuk tensi, berdampak pada penurunan bursa Eropa dan Wall Street. Bursa Asia pagi ini juga menunjukkan tekanan, dengan kebanyakan indeks melemah, kecuali Hang Seng dan Straits Times yang sedikit menguat.

Kondisi ini menambah tekanan terhadap kebijakan moneter global. Kenaikan harga energi berpotensi memperkuat tekanan inflasi, membatasi ruang pelonggaran kebijakan oleh The Fed dan Bank of Japan. Dalam situasi tersebut, risiko suku bunga tetap tinggi atau kembali naik meningkat, yang dapat menekan pasar saham dan obligasi serta memperbesar volatilitas. Namun, sektor energi dan batu bara diprediksi mendapat sentimen positif dari kekhawatiran keamanan pasokan global, meski dampaknya tetap tergantung pada kondisi fundamental masing-masing emiten.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya