IHSG Terkoreksi 1% Akibat Tekanan Eksternal dan Aksi Jual Asing
Indeks harga saham gabungan turun 1% menjadi 6.611,70 pada Kamis (10/9/2026), dipicu pelemahan saham besar, kenaikan harga minyak, dan aksi jual asing yang signifikan.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 10 September 2026, 22.35 WITA·👁 5 orang membaca· 5 hari ini · 8x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada perdagangan hari ini, Kamis (10/9/2026), dengan koreksi mencapai 1% atau 66,50 poin, menembus level 6.611,70 pada pukul 14.25 WIB. Meski sempat bergerak positif dan menyentuh level 6.712,50 pada awal sesi, indeks berbalik arah dan menyentuh titik terendah 6.608,21 sebelum kembali sedikit pulih. Pergerakan ini menandai penurunan yang cukup dalam dalam sepanjang hari, terutama di sesi kedua perdagangan.
Kemerosotan IHSG didorong oleh pelemahan mayoritas saham kapitalisasi besar, khususnya emiten perbankan dan industri. BBCA turun 1,15%, BBRI merosot 2,92%, BYAN melemah 3,99%, serta AMMN terpangkas 1,83%. Dari total 963 saham yang diperdagangkan, 495 mengalami penurunan harga, sementara hanya 172 yang menguat, sisanya 296 stagnan. Tekanan terutama berasal dari sektor keuangan yang turun 0,65%, disusul kesehatan dengan penurunan 1,51%, industri 0,27%, dan teknologi 0,01%.
Faktor eksternal turut memperparah tekanan pasar. Harga minyak mentah Brent melonjak ke level US$101 per barel akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, yang memicu kembali kekhawatiran inflasi global. Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun tetap tinggi, berada di angka 4,86%, level tertinggi sejak November 2023, yang menarik aliran modal ke aset berisiko rendah dan membebani pasar saham.
Aksi jual asing menjadi pemicu utama penurunan, dengan nilai penjualan bersih mencapai Rp1,31 triliun hingga sesi I. Asing mencatatkan pembelian bersih sebesar Rp2,71 triliun, tetapi jual bersih mencapai Rp4,02 triliun. Saham-saham perbankan menjadi fokus penjualan asing, dengan BBCA mencatat net sell Rp276,20 miliar, BBRI Rp116,19 miliar, dan BMRI Rp17,14 miliar. AMMN juga tercatat sebagai target jual asing dengan nilai Rp36,17 miliar.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Premi Asuransi Mobil Listrik Lebih Tinggi, Ini Alasannya
Biaya perbaikan dan suku cadang yang mahal menjadi penyebab premi asuransi mobil listrik lebih tinggi dibanding kendaraan konvensional, sesuai penjelasan dari perusahaan asuransi di tengah penyesuaian tarif.
11 September 2026

Beli iPhone 18 Duo di Luar Negeri? Siapkan Rp66,7 Juta untuk Pajak
Konsumen yang membeli iPhone 18 Duo 2 TB dari AS harus siap membayar bea masuk dan PPN hingga Rp10,5 juta saat masuk ke Indonesia.
11 September 2026

Rupiah Melemah ke Rp17.570 per Dolar AS
Rupiah dibuka melemah 0,23% ke level Rp17.570/US$ pada awal perdagangan Jumat, dipengaruhi penguatan dolar global dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
11 September 2026

Laba TINS Melonjak 805% di Semester I 2026
PT Timah (Persero) Tbk. mencatat laba bersih Rp2,71 triliun pada semester pertama 2026, naik 805% dibanding periode sama tahun sebelumnya, didorong kenaikan harga dan volume penjualan logam timah.
11 September 2026
Berita Lainnya

Cek Tagihan dan Tarif Listrik PLN via HP, Ini Rincian 2026
Jumat, 11 September 2026, 19.46 WITA

Google Maps Dorong Kolaborasi Lokasi Real-Time Tanpa Batas
Jumat, 11 September 2026, 19.39 WITA

Indonesia Siapkan Tim Negosiator Unggul untuk Dukung Pertumbuhan Ekonomi 2029
Jumat, 11 September 2026, 19.39 WITA

Indonesia dan Rusia Perkuat Hilirisasi Bauksit di Kalimantan
Jumat, 11 September 2026, 19.38 WITA

Operator Kapal Masih Enggan Angkut Mobil Listrik
Jumat, 11 September 2026, 19.38 WITA

WEY G9 Hi4 Resmi Hadir, Ancam Dominasi Alphard
Jumat, 11 September 2026, 19.38 WITA

Kapolri Ajak Pengusaha Laporkan Premanisme di Kawasan Industri
Jumat, 11 September 2026, 19.37 WITA

GWM Perluas Jaringan Diler ke Kota-Kota Strategis
Jumat, 11 September 2026, 19.37 WITA


