Senin, 14 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Terpuruk 2% di Awal Sesi 2, Tekanan Jual Asing dan Geopolitik Picu Penurunan

Indeks Harga Saham Gabungan turun 2,02% menjadi 6.409,33 akibat tekanan jual asing dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengancam pasokan minyak global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 14 September 2026, 15.34 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
IHSG Terpuruk 2% di Awal Sesi 2, Tekanan Jual Asing dan Geopolitik Picu Penurunan📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan pada awal sesi perdagangan Senin (14/9/2026), merosot 2,02% atau 132,05 poin ke level 6.409,33 pada pukul 14.14 WIB. Penurunan ini terjadi setelah indeks sempat bergerak naik hingga menyentuh level tertinggi harian di 6.543,28, namun kemudian kembali mengalami tekanan jual yang terus memperdalam koreksi. Pergerakan tersebut mencerminkan ketidakpastian pasar yang meningkat di tengah kondisi global yang memburuk.

Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 544 saham mengalami penurunan harga, jauh melampaui 157 saham yang menguat. Sementara itu, 262 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga. Aktivitas perdagangan mencatat volume transaksi mencapai 20,28 miliar lembar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp9,479 triliun dan frekuensi perdagangan sebanyak 1,387 juta kali. Kapitalisasi pasar pasar Bursa Efek Indonesia tercatat sekitar Rp11.196 triliun.

Aksi jual asing menjadi pemicu utama penurunan, dengan nilai penjualan bersih (net foreign sell) mencapai Rp664,34 miliar selama sesi I. Sektor pertambangan dan perbankan menjadi fokus penjualan asing, terutama pada saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) yang terjual asing senilai Rp164,81 miliar. Diikuti oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dengan nilai jual asing Rp127,90 miliar dan PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) sebesar Rp124,55 miliar. Ketiga saham tersebut turut menjadi penekan utama terhadap pergerakan indeks.

Kenaikan harga minyak dunia yang telah melampaui US$100 per barel pada pekan sebelumnya turut memperparah ketegangan pasar. Serangan Houthi terhadap Arab Saudi dan gangguan pelayaran di Teluk Persia menimbulkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan minyak global. Kerusakan pipa minyak Arab Saudi yang berfungsi sebagai jalur alternatif pengiriman tanpa melalui Selat Hormuz menambah risiko gangguan pasokan energi. Lonjakan harga energi berpotensi memperbesar tekanan inflasi global dan membatasi ruang kebijakan moneter pelonggaran di berbagai negara.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya