Senin, 12 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Terpuruk 2% di Sesi I Akibat Tekanan Jual Luas

Indeks harga saham gabungan anjlok 2% pada perdagangan Senin (12/10/2026), dipicu tekanan jual di sektor infrastruktur, energi, dan barang baku.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 12 Oktober 2026, 15.27 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
IHSG Terpuruk 2% di Sesi I Akibat Tekanan Jual Luas📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada sesi perdagangan pertama hari ini, Senin (12/10/2026), bergerak di zona merah sejak awal sesi. Pada pukul 12.00 WIB, IHSG berada di level 5.975,78, turun 61,44 poin atau 1,93% dari penutupan sebelumnya. Titik terendah harian tercatat di 5.971,41, menunjukkan penurunan hampir mencapai 2%. Meski sempat dibuka positif di level 6.109,32, kenaikan tersebut tak bertahan lama dan langsung terkikis oleh aksi jual yang intensif sejak pukul 10.00 WIB.

Kinerja pasar dipengaruhi oleh pelemahan signifikan di tiga sektor utama. Sektor infrastruktur menjadi penyumbang terbesar dengan penurunan 6,70%, diikuti sektor energi yang melemah 3,65% dan sektor barang baku yang turun 2,82%. Beberapa emiten utama turut menjadi pemicu koreksi, termasuk Dian Swastatika Sentosa (DSSA), Bank Central Asia (BBCA), Barito Renewables Energy (BREN), Chandra Asri Pacific (TPIA), serta GoTo Gojek Tokopedia (GOTO). Di sisi lain, saham-saham seperti Astra International (ASII), Multipolar Technology (MLPT), dan Indofood Sukses Makmur (INDF) juga turut menekan indeks.

Pasar modal domestik berada dalam bayang-bayang sentimen global yang memburuk, terutama menyusul sejumlah agenda ekonomi penting dalam pekan ini. Pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia di Bangkok menjadi perhatian utama, dengan hadirnya pejabat penting seperti Ketua The Fed Kevin Warsh. Agenda krusial lainnya datang pada Rabu (14/10), termasuk rilis data inflasi AS, inflasi dan neraca perdagangan China, serta pidato pejabat The Fed yang bisa memengaruhi kebijakan moneter global.

Pergerakan pasar Indonesia juga dipengaruhi oleh kondisi geopolitik yang memanas, termasuk isu kerja sama militer AS dengan Arab Saudi terhadap kelompok Houthi di Yaman. Sementara itu, sentimen domestik relatif datar, meski ada kekhawatiran akan peningkatan ketegangan politik menjelang peringatan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Kondisi ini membuat investor lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya