IMF dan Bank Dunia Bahas Krisis Global di Bangkok
Pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok menyoroti ancaman utang global, tekanan energi akibat konflik Timur Tengah, serta tantangan fiskal negara berkembang.
Redaksi iNarasikita·Senin, 12 Oktober 2026, 09.00 WITA·👁 2 orang membaca· 2 hari ini · 9x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Para pemimpin keuangan dunia berkumpul di Bangkok untuk memperkuat koordinasi ekonomi global dalam pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia. Acara yang berlangsung dari 12 hingga 18 Oktober 2026 di Queen Sirikit National Convention Center menjadi pusat perhatian karena berlangsung di tengah ketegangan geopolitik yang memengaruhi stabilitas pasar. Perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memasuki bulan kedelapan, mengancam pasokan minyak melalui penutupan Selat Hormuz—saluran vital bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia—dan memicu kenaikan harga energi secara global.
Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, menyampaikan bahwa sekitar 18.000 peserta telah terdaftar, meningkat dari 14.000 pada pertemuan sebelumnya di Maroko. Meski partisipasi tinggi, sejumlah pejabat utama dari negara maju, termasuk Menteri Keuangan AS Scott Bessent, tidak hadir karena kesibukan domestik. Gantinya, dua pejabat senior mewakili Washington, sementara Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dijadwalkan hadir pada sesi publik. Ketidakhadiran menteri keuangan AS mencerminkan keterkaitan erat antara kebijakan keuangan dan isu keamanan nasional, yang kini semakin sulit dipisahkan.
Perkembangan harga diesel, pupuk, dan ancaman cuaca El Niño ditegaskan sebagai faktor pemicu tekanan ekonomi. Bank Dunia menegaskan bahwa proyeksi pertumbuhan global tetap stabil di angka 3% untuk 2026, meskipun risiko inflasi terus meningkat. Sebagai respons, negara-negara G7 telah menyetujui pelepasan 100 juta barel minyak dan diesel dari cadangan strategis. AS juga mengumumkan kesepakatan dengan Rusia untuk pasokan diesel tambahan, disertai pengecualian sementara terhadap sanksi hingga April 2027. Langkah ini menuai kritik dari Ukraina, yang menilai kebijakan tersebut dapat memperpanjang konflik tanpa komitmen damai.
Utang publik global menjadi fokus utama lainnya, dengan angka yang diperkirakan melampaui 100% dari PDB dunia sebelum 2030—tingkat tertinggi sejak Perang Dunia II. Negara berkembang, terutama yang berpendapatan rendah, menghadapi tekanan berat dalam membayar utang luar negeri. Total pembayaran utang eksternal diperkirakan mencapai US$400 miliar (sekitar Rp7,15 triliun) sepanjang 2026, dengan rata-rata biaya bunga melebihi 10% dari pendapatan pemerintah. Kondisi ini membatasi ruang anggaran untuk layanan publik, investasi, dan perlindungan sosial. Upaya pemangkasan belanja di negara seperti Kenya justru memicu protes besar, menunjukkan risiko sosial dari kebijakan penyesuaian fiskal.
Iolanda Fresnillo dari Eurodad menekankan bahwa perubahan kebijakan pinjaman IMF yang menekankan reformasi mendalam tanpa dukungan pembiayaan cukup dapat memperburuk krisis. Dengan dukungan internasional yang terbatas dibanding masa pandemi, negara-negara termiskin kini berada dalam posisi rentan. Pertemuan di Bangkok diharapkan menjadi titik tolak bagi upaya kolektif menangani krisis utang, ketahanan energi, dan ketahanan ekonomi global dalam kondisi yang semakin kompleks.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Ameriza Moesa Dilantik Jadi Kepala Perwakilan BI Sumut
Gubernur BI Destry Damayanti melantik Ameriza M. Moesa sebagai Kepala Perwakilan BI Sumatera Utara, menggantikan Rudy Brando Hutabarat, dalam upacara di Medan, Jumat (9/10/2026).
11 Oktober 2026

Nopek Novian Bantah Terlibat dalam Skema Emas Rp25 Miliar
Komedian Nopek Novian menegaskan keterlibatannya hanya sebagai brand ambassador dengan honor baru diterima 5 persen, dan menyampaikan keprihatinan atas kerugian korban emas digital.
11 Oktober 2026

Penguatan Ekonomi Melalui Jalur Anyer-Panarukan 3R
Program Anyer-Panarukan 3R dirancang untuk memperkuat UMKM, wisata, dan ekonomi lokal di sepanjang jalur nasional melalui pendekatan jalan, rute, dan akar budaya.
11 Oktober 2026

BSI Perkuat Pemulihan Desa Sade Lewat Program Satu Benang
BSI resmikan pemulihan Desa Sade di Lombok dengan dukungan infrastruktur dan donasi publik untuk bangkitkan ekonomi lokal pasca-bencana kebakaran.
11 Oktober 2026
Berita Lainnya

Jasad Pria 24 Tahun Ditemukan Terbungkus Sleeping Bag di Kos
Senin, 12 Oktober 2026, 09.30 WITA

Waspada Modus Penipuan Gunakan Aturan Wajib Halal
Senin, 12 Oktober 2026, 09.29 WITA

Hasyim Bantah Isu Penyelundupan Pasal Gibran di PKPU
Senin, 12 Oktober 2026, 09.29 WITA

199 Perwira Tinggi dan Menengah Dimutasi di Awal Kepemimpinan Kapolri
Senin, 12 Oktober 2026, 09.29 WITA

Dua Mahasiswa Tel-U Dikeluarkan Akibat Aksi Bullying di Asrama
Senin, 12 Oktober 2026, 09.29 WITA

Kapolri Lakukan Rotasi Besar di Korlantas
Senin, 12 Oktober 2026, 09.29 WITA

Serangan Terkoordinasi Pemerintah Yaman Kuasai Dua Bukit di Taiz dan Tekan Pos Houthi di Marib
Senin, 12 Oktober 2026, 09.28 WITA

Revisi UU LLAJ Segera Atur Transportasi Berbasis Aplikasi
Senin, 12 Oktober 2026, 09.27 WITA

