Impor Udang Vaname Meningkat, Petambak Minta Pengawasan Ketat
Petambak udang nasional meminta pemerintah perketat pengawasan impor udang vaname untuk lindungi pasar dalam negeri dan jaga keberlanjutan produksi lokal.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 2 Oktober 2026, 23.02 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Kementerian Kelautan dan Perikanan telah mengamankan 1.048 ton udang impor yang diduga tidak sesuai peruntukan, tersebar di beberapa wilayah Jawa Timur. Komoditas tersebut berasal dari tiga negara, termasuk Ekuador, Kanada, dan Argentina, dan masuk melalui fasilitas Kawasan Berikat. Penyegelan dilakukan untuk mencegah masuknya udang impor ke pasar domestik, sekaligus melindungi petambak lokal yang mengandalkan udang vaname sebagai komoditas utama.
Ketua Umum Shrimp Club Indonesia (SCI), Andi Tamsil, menyoroti kekhawatiran terhadap tren impor udang vaname dari Ekuador yang kian meningkat. Ia menyatakan bahwa meski dampak langsung terhadap harga jual belum terasa, tren nilai impor yang terus menguat dalam dua bulan terakhir menjadi tanda bahaya bagi produksi dalam negeri. SCI meminta pemerintah segera mengambil langkah antisipatif untuk mencegah kehancuran pasar domestik.
SCI mengusulkan tiga langkah strategis: pertama, penerapan Rencana Kebutuhan Impor (RKI) dan persetujuan impor khusus untuk udang vaname yang masuk Kawasan Berikat; kedua, penguatan sistem pemeriksaan karantina berbasis analisis risiko di pintu masuk; ketiga, transparansi data impor udang vaname yang diperbarui secara berkala. Usulan ini bertujuan menjaga keseimbangan antara kebutuhan industri pengolahan dan perlindungan petambak lokal.
Andi menekankan bahwa meskipun industri pengolahan tertarik pada udang impor dari Ekuador karena harga yang lebih kompetitif, kebijakan tersebut berisiko menciptakan ketergantungan jangka panjang. Jika seluruh pabrik beralih ke bahan baku impor, produksi udang dalam negeri akan kesulitan bersaing, terlebih dengan kenaikan biaya produksi yang terus berlanjut. Ia menegaskan bahwa SCI tetap siap berkolaborasi dengan industri pengolahan untuk memperkuat pasokan lokal yang berkualitas dan berkelanjutan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

ISF 2026 Tekankan Kolaborasi Global untuk Ekonomi Berkelanjutan
Forum keberlanjutan internasional 2026 di Jakarta akan fokus pada pertumbuhan rendah karbon dan ketahanan sistemik dengan melibatkan lebih dari 200 narasumber global.
2 Oktober 2026

Program Asuransi BMN Perluas Cakupan ke 20+ Kementerian
Program asuransi barang milik negara melalui pooling fund bencana akan melibatkan lebih dari 20 kementerian mulai 2027, dengan fokus pada perlindungan aset strategis dari risiko bencana.
2 Oktober 2026

Indonesia Perkuat Kemitraan Ekonomi dengan Jerman 2026
Tahun 2026 menjadi titik penting dalam hubungan Indonesia-Jerman melalui serangkaian pertemuan tingkat tinggi dan percepatan kerja sama di sektor industri, energi hijau, serta pengembangan SDM.
2 Oktober 2026

Revitalisasi Sekolah di Bali Dorong Peningkatan Ekonomi dan Kualitas Pembelajaran
Program revitalisasi 401 sekolah di Bali pada 2025–2026 tidak hanya perbaiki infrastruktur, tapi juga tingkatkan ekonomi lokal melalui penyerapan tenaga kerja dan kenyamanan belajar.
2 Oktober 2026
Berita Lainnya

Lelang Batik Karya Desainer Dorong Permodalan UMKM Perempuan
Jumat, 2 Oktober 2026, 23.28 WITA

MA Setujui Permohonan Pemakzulan Bupati Gowa
Jumat, 2 Oktober 2026, 23.28 WITA

Insentif SPPG Rp2.000 Harus Disertai Standar Mutu Ketat
Jumat, 2 Oktober 2026, 23.28 WITA

Anggota DPR Puji Kinerja Basarnas dalam Operasi SAR KM Virgo
Jumat, 2 Oktober 2026, 23.27 WITA

Suyudi Ario Seto Resmi Jabat Kapolri, Mulai Era Baru Kepemimpinan
Jumat, 2 Oktober 2026, 23.26 WITA

Kejagung Tegaskan Nanik Deyang Tak Terlibat dalam Kasus MBG
Jumat, 2 Oktober 2026, 23.26 WITA

Suara Hujan dan Ketenangan yang Dibentuk Otak
Jumat, 2 Oktober 2026, 23.25 WITA

Tepung Olahan Berlebihan Picu Risiko Penyakit Kronis
Jumat, 2 Oktober 2026, 23.23 WITA

