Jumat, 2 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah ke Rp17.868, Dolar AS Terkoreksi di Tengah Antisipasi Data NFP

Rupiah menguat 0,40% pada penutupan Jumat (2/10/2026), berada di level Rp17.868/US$, didorong pelemahan dolar AS menyusul antisipasi rilis data tenaga kerja AS.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 2 Oktober 2026, 21.07 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Rupiah Melemah ke Rp17.868, Dolar AS Terkoreksi di Tengah Antisipasi Data NFP📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kurs rupiah ditutup pada posisi Rp17.868 per dolar AS pada akhir perdagangan Jumat, menunjukkan penguatan sebesar 0,40% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.940. Pergerakan ini terjadi setelah sebelumnya mengalami tekanan, dengan pergerakan harian berada dalam rentang Rp17.850 hingga Rp17.950. Penguatan mata uang lokal terjadi di tengah melemahnya indeks dolar AS (DXY) yang mencapai 101,877 pada pukul 15.00 WIB, turun 0,23% dari posisi sebelumnya.

Pelemahan dolar AS didorong oleh penundaan keputusan pasar atas rilis data tenaga kerja Amerika Serikat, khususnya indikator non-farm payrolls (NFP), yang dijadwalkan rilis pada malam hari. Data tersebut menjadi acuan utama bagi investor untuk menilai kondisi pasar tenaga kerja AS dan memprediksi arah kebijakan moneter The Federal Reserve. Dalam konteks ini, pasar memilih menahan diri dari pergerakan besar sebelum informasi resmi dirilis.

Di tengah dinamika global tersebut, pemerintah menyoroti stabilitas nilai tukar rupiah yang sempat mendekati level Rp18.000/US$. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menegaskan bahwa penerbitan surat utang di pasar internasional memberikan kontribusi signifikan terhadap kekuatan cadangan devisa negara. Hasil penerbitan yang ditempatkan di Bank Indonesia, menurutnya, menjadi alat penting dalam menjaga keseimbangan nilai tukar.

Pemerintah menyatakan bahwa cadangan devisa yang terbentuk dari aktivitas pasar global dapat digunakan secara strategis untuk stabilisasi jika diperlukan. Kebijakan ini, menurut Juda, menunjukkan sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter dalam menjaga stabilitas makroekonomi. Dengan begitu, pemerintah tetap siap menghadapi tekanan pasar global tanpa mengabaikan konsistensi kebijakan ekonomi jangka panjang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya