Jumat, 2 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Data Center Wajib Sesuaikan Ketersediaan Air dan Listrik

Pemerintah menegaskan pengembangan data center harus berbasis pada kesiapan pasokan listrik dan air di lokasi, guna mencegah dampak lingkungan dan ketahanan energi nasional.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 2 Oktober 2026, 21.09 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Data Center Wajib Sesuaikan Ketersediaan Air dan Listrik📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah memastikan bahwa setiap rencana pengembangan fasilitas pusat data di Indonesia harus mempertimbangkan ketersediaan air dan kapasitas listrik secara memadai di wilayah setempat. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Yuliot Tanjung, menjelaskan bahwa dua komponen utama—listrik berkapasitas tinggi dan air yang cukup—harus menjadi dasar dalam penentuan lokasi dan penerbitan izin operasional. Ia menekankan bahwa tidak boleh ada proyek yang mengabaikan kesiapan infrastruktur dasar tersebut, terlebih di kawasan yang rentan terhadap tekanan sumber daya alam.

Pengelolaan energi untuk data center dinilai memerlukan pendekatan berkelanjutan, terutama mengingat konsumsi listrik yang sangat besar. Yuliot menyatakan bahwa pemerintah membuka ruang terbuka untuk mempertimbangkan berbagai sumber energi bersih, termasuk pembangkit listrik tenaga nuklir, sebagai alternatif untuk menopang beban listrik yang tinggi. Meski belum diputuskan secara definitif, kemungkinan pemanfaatan PLTN sebagai sumber energi bagi data center tetap menjadi bagian dari diskusi strategis.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar, terutama dari PLTA di Sungai Mamberamo, Papua, dengan kapasitas hingga 23 gigawatt, serta PLTA Sungai Kayan di Kalimantan yang mencapai sekitar 12 gigawatt. Ia menilai, kondisi ini menjadi daya tarik utama bagi investor global yang mencari lokasi dengan akses energi bersih dan stabil untuk mendukung industri digital era modern.

Pemerintah juga menegaskan komitmen dalam mewujudkan target emisi nol bersih pada 2050–2060 melalui program konkret seperti RUPTL 2025–2034 yang menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt, dengan 70 persennya berasal dari energi baru terbarukan. Selain itu, program PLTS 100 GW yang dijalankan dalam tiga tahun ke depan menjadi bagian dari strategi transformasi energi nasional yang sejalan dengan kebutuhan industri data center global yang semakin mengutamakan keberlanjutan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya