GOTO Jelaskan Teknikal Penyebab Volatilitas Saham
GOTO menegaskan fluktuasi harga saham disebabkan faktor teknis setelah tereliminasi dari indeks global, bukan kinerja bisnis, seiring perubahan aturan floor price dan rencana korporasi.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 2 Oktober 2026, 21.07 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mengungkapkan penyebab utama gejolak harga saham yang terjadi sejak awal 2026, menekankan bahwa pergerakan tersebut tidak mencerminkan kondisi operasional perusahaan. Dalam surat resmi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) tanggal 1 Oktober 2026, manajemen menyatakan bahwa penurunan harga saham dipicu oleh dua keputusan independen dari penyedia indeks global, bukan perubahan fundamental bisnis. Kedua indeks tersebut adalah FTSE Global Equity Index Series (GEIS) Mid Cap Index dan MSCI Global Standard Indexes, yang keduanya memutuskan mencabut GOTO dari portofolio mereka pada periode Juni dan Agustus 2026.
Pemecahan masalah bermula dari kriteria teknis yang tidak terpenuhi. GOTO dikeluarkan dari FTSE GEIS karena sahamnya berada di Papan Pengembangan BEI, yang tidak sesuai dengan kriteria indeks tersebut. Sementara itu, keluarnya dari MSCI disebabkan oleh volume perdagangan yang rendah, akibat saham yang terus berada pada level minimum Rp50 per saham sejak Mei 2026. Dua keputusan ini memicu aksi jual dari dana pasif asing yang wajib menyesuaikan portofolio sesuai indeks, namun tidak dapat menjual saham secara efisien karena keterbatasan likuiditas di pasar reguler.
Perubahan signifikan terjadi setelah BEI menurunkan floor price dari Rp50 menjadi Rp1 per saham mulai 28 September 2026. Keputusan ini membuka peluang bagi para pemegang saham yang sebelumnya terhambat untuk menjual saham secara aktif di pasar reguler. Sejak saat itu, pergerakan harga saham mulai menunjukkan fluktuasi yang lebih dinamis. GOTO menegaskan bahwa harga saat ini tidak merefleksikan kinerja operasional perusahaan yang terus membaik, dan menekankan komitmen untuk memperkuat fundamental bisnis.
Perusahaan juga mengumumkan dua langkah korporasi strategis. Pertama, program pembelian kembali saham (buyback) senilai maksimal Rp3,5 triliun yang berlangsung dari 19 Juni 2026 hingga 18 Juni 2027, setelah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) 18 Juni 2026. Kedua, rencana pengurangan modal dengan menarik kembali 32,18 miliar saham Seri A hasil buyback periode 12 Juni 2024–11 Juni 2025. Program ESOP/MSOP yang awalnya direncanakan untuk direalisasikan dibatalkan demi kepentingan seluruh pemegang saham, dengan pertimbangan kondisi pasar global dan domestik. Jika disetujui, pengurangan modal akan berlangsung dalam tiga bulan setelah proses hukum selesai.
Mengenai kepemilikan saham, GOTO menyatakan hanya mengetahui data transaksi yang dipublikasikan melalui situs BEI sesuai Peraturan OJK No. 4/2024. Pemegang saham pengendali yang secara kolektif menguasai 20% hak suara terdiri dari pemegang saham Seri B. Adapun pemegang saham mayoritas tidak dapat dipastikan secara rinci, karena terdiri dari sejumlah pihak, termasuk investor ritel, dengan pemegang terbesar hanya sekitar 7%. GOTO menegaskan tidak memiliki informasi langsung mengenai rencana transaksi antar pemegang saham mayoritas.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Pemerintah Kaji Pembebasan PPN untuk Outsourcing di Industri Tekstil
Pemerintah mempertimbangkan pembebasan PPN atas jasa outsourcing guna mendukung daya saing industri tekstil yang bergantung pada fluktuasi permintaan ekspor.
2 Oktober 2026

Reshuffle Kabinet Dorong Stabilitas Kebijakan Ekonomi
Pergantian menteri di kabinet Merah Putih menekankan pentingnya kelanjutan kebijakan ekonomi, kepastian regulasi, dan koordinasi antarinstansi bagi dunia usaha.
2 Oktober 2026

Merger Asuransi BUMN Rampung Akhir Tahun
Konsolidasi asuransi BUMN akan selesai akhir 2026 dengan penggabungan 15 perusahaan menjadi tiga entitas utama berbasis spesialisasi.
2 Oktober 2026

Rupiah Melemah ke Rp17.868, Dolar AS Terkoreksi di Tengah Antisipasi Data NFP
Rupiah menguat 0,40% pada penutupan Jumat (2/10/2026), berada di level Rp17.868/US$, didorong pelemahan dolar AS menyusul antisipasi rilis data tenaga kerja AS.
2 Oktober 2026
Berita Lainnya

Data Center Wajib Sesuaikan Ketersediaan Air dan Listrik
Jumat, 2 Oktober 2026, 21.09 WITA

Menteri Perindustrian Baru Diminta Perkuat Daya Saing dan Industri Padat Karya
Jumat, 2 Oktober 2026, 21.09 WITA

Syahganda Nainggolan Pimpin Bakom, Fokus Atasi Dampak Algoritma pada Komunikasi Pemerintah
Jumat, 2 Oktober 2026, 21.08 WITA

Indonesia Jajaki Kerja Sama AS untuk Kembangkan Hidrogen Bersih
Jumat, 2 Oktober 2026, 21.08 WITA

Prabowo Lantik 26 Anggota Wantimpres dan Ganti Kepala Bakom
Jumat, 2 Oktober 2026, 21.08 WITA

Kemenhub Pertimbangkan Kapal Khusus Angkut Mobil Listrik
Jumat, 2 Oktober 2026, 21.07 WITA

Repo Surat Utang SMI Capai Rp60 Miliar dalam Dua Hari
Jumat, 2 Oktober 2026, 21.07 WITA

Kejagung Geledah Kasus Korupsi Pengadaan Motor Listrik MBG
Jumat, 2 Oktober 2026, 21.06 WITA

