Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Indonesia Hadapi Tekanan Pasokan Sawit di Tengah Proyeksi Harga Naik 2027

Pemerintah menghadapi tantangan krusial pada 2027 dengan penurunan produksi sawit akibat El Nino, sementara kebutuhan domestik untuk biodiesel B50 dan pangan meningkat, padahal harga CPO dunia diperkirakan mencapai US$1.720 per ton.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 23.46 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 16x dibuka
Indonesia Hadapi Tekanan Pasokan Sawit di Tengah Proyeksi Harga Naik 2027
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kondisi ekonomi dan iklim yang tidak menentu menempatkan industri kelapa sawit Indonesia pada posisi kritis menjelang 2027. Meskipun harga crude palm oil (CPO) global diperkirakan melonjak hingga kisaran US$1.650–1.720 per ton, produksi dalam negeri justru diperkirakan mengalami penurunan signifikan. Penurunan ini dipicu oleh dampak El Nino yang telah memengaruhi lahan perkebunan sejak kuartal III 2026 dan diperkirakan berlanjut hingga pertengahan 2027. Produksi CPO nasional diperkirakan turun dari 51,6 juta ton pada 2025 menjadi sekitar 47,6 juta ton pada 2027.

Kenaikan harga CPO membuka peluang ekspor yang menguntungkan, namun di tengah itu, kebutuhan dalam negeri terus meningkat. Penerapan kebijakan biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026 telah menaikkan permintaan CPO domestik secara signifikan. Pada 2026, total kebutuhan CPO untuk biodiesel diperkirakan mencapai 14 juta ton, ditambah 10,2 juta ton untuk minyak goreng rakyat dan 2,2 juta ton untuk sektor oleokimia. Total konsumsi dalam negeri diperkirakan mencapai 26–27 juta ton, naik dari 24,6 juta ton pada 2025. Jika B50 diterapkan secara penuh pada 2027, kebutuhan akan CPO untuk biodiesel diperkirakan mencapai 18 juta ton.

Dengan produksi yang menurun dan permintaan yang terus tumbuh, ketersediaan CPO untuk ekspor akan terbatas. Meskipun data Januari–Juni 2026 menunjukkan kenaikan produksi CPO dan PKO secara kumulatif sebesar 15,82% dibandingkan periode yang sama 2025, serta ekspor yang melonjak 5,79%, stok akhir Juni 2026 tetap terjaga di level 2,844 juta ton. Ketua Umum Gapki Eddy Martono menegaskan bahwa stok akhir 2026 diperkirakan masih aman, berada di kisaran 2,5–2,9 juta ton, sehingga tidak ada ancaman kelangkaan pasokan dalam negeri pada tahun ini.

Namun, tantangan jangka panjang tetap menghantui. Wilayah produsen utama seperti Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, dan Kalimantan Utara masih mengalami hujan yang mengganggu produktivitas. Hal ini memperbesar kemungkinan penurunan produksi tahun 2027 hingga sekitar 3 juta ton. Dengan kondisi tersebut, pemerintah harus menyeimbangkan antara menjaga ketersediaan minyak sawit untuk kebutuhan pokok dan biodiesel, sekaligus memanfaatkan potensi ekspor di tengah harga global yang tinggi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya