Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Indonesia Perkuat Fondasi Pasar Modal Pasca Turunnya IHSG

Penurunan IHSG di bawah 5.000 pada Oktober 2026 menjadi ujian transparansi dan kredibilitas pasar modal, sekaligus dorongan untuk reformasi tata kelola dan penguatan ekonomi domestik.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 22 Oktober 2026, 15.21 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 19x dibuka
Indonesia Perkuat Fondasi Pasar Modal Pasca Turunnya IHSG📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyentuh level di bawah 5.000 pada bulan Oktober 2026, bukan sekadar gejolak harian yang terjadi, melainkan refleksi mendalam terhadap kesehatan ekonomi jangka panjang Indonesia. Pergerakan ini mengungkap ketidakseimbangan antara sentimen global dan fondasi ekonomi nasional yang sebenarnya, menekankan pentingnya membangun ketahanan yang berbasis pada kapasitas domestik, bukan hanya kepercayaan asing semata.

Dalam konteks itu, seruan untuk "Buy Indonesia" yang disuarakan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menggambarkan kebutuhan strategis untuk memperkuat ekonomi dalam negeri. Ajakan ini bukan sekadar retorika, melainkan penekanan pada potensi pasar lokal, kapasitas produksi dalam negeri, serta kekuatan pelaku usaha dan investor lokal yang mampu menjadi penopang saat tekanan eksternal meningkat. Namun, kepercayaan tidak bisa dibangun hanya dari ajakan, melainkan harus dibuktikan melalui tata kelola yang terbuka dan transparan.

Pemicu utama tekanan pada pasar adalah keputusan konsultasi Morgan Stanley Capital Index (MSCI) pada 15 Oktober 2026, yang menilai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar Indonesia dari emerging market ke standalone market. MSCI menyoroti kekurangan dalam transparansi kepemilikan saham, adanya indikasi perdagangan terkoordinasi, serta ketidakberlanjutan reformasi pasar. Keputusan akhir dijadwalkan hingga akhir Juni 2027, memberi waktu bagi pemerintah dan otoritas pasar untuk menunjukkan komitmen nyata terhadap perbaikan sistem.

Pemulihan pasar yang terjadi pada 20 Oktober 2026, dengan kenaikan 5,3 persen dalam dua hari, menunjukkan respons pasar terhadap sentimen positif, tetapi belum cukup untuk mengembalikan kepercayaan penuh. Investor tetap menuntut bukti konkret: regulasi yang pasti, perlindungan investor yang kuat, serta transparansi yang konsisten dalam operasional pasar. Dengan demikian, momentum ini harus dimanfaatkan untuk mendorong reformasi struktural yang mendalam, bukan hanya sebagai respons terhadap tekanan eksternal, tetapi sebagai langkah strategis membangun ekonomi yang lebih tangguh dan mandiri.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya