Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Indonesia Siap Lepas dari Jebakan Pendapatan Menengah

Asian Development Bank optimistis Indonesia mampu keluar dari middle income trap berkat pertumbuhan ekonomi stabil dan reformasi fiskal yang berkelanjutan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 22 Oktober 2026, 09.25 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 73x dibuka
Indonesia Siap Lepas dari Jebakan Pendapatan Menengah📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Prospek ekonomi Indonesia dinilai sangat positif oleh Asian Development Bank, yang menilai negara ini memiliki peluang besar untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Menurut Direktur ADB untuk Indonesia, Bobur Alimov, klasifikasi negara anggota berkembang (DMC) yang diberikan oleh lembaga tersebut tidak akan turun, melainkan terus mengalami peningkatan. Ia menegaskan bahwa status Indonesia dalam kategori DMC C2, yang saat ini ditempati bersama Armenia, Thailand, dan Azerbaijan, akan terus bergerak naik seiring dengan keberhasilan pembangunan yang diraih dalam dua dekade terakhir.

Bobur menyampaikan bahwa perubahan signifikan terlihat dari berbagai sektor, mulai dari infrastruktur hingga layanan publik. Ia mencontohkan kemajuan Jakarta, yang meski masih menghadapi kemacetan, kini telah memiliki MRT dan fasilitas kesehatan yang jauh lebih berkualitas dibanding dua dekade lalu. Ia juga menyoroti bahwa negara-negara di kawasan Asia Tenggara kini mulai melihat Indonesia sebagai referensi dalam pencapaian pembangunan, sebuah indikasi nyata dari pengakuan internasional terhadap keberhasilan ekonomi nasional.

Dalam pengelolaan keuangan negara, Indonesia dinilai mampu menjaga rasio utang terhadap PDB di angka 30–40%, level yang dianggap aman meskipun dibandingkan dengan negara maju seperti AS, Jepang, dan sejumlah negara Eropa yang memiliki rasio lebih dari 100%. Bobur menekankan bahwa kebijakan fiskal yang konsisten menjadi salah satu faktor pendorong kepercayaan investor dan lembaga keuangan internasional. Namun, ia juga menyoroti tantangan utama yang masih perlu diatasi, yaitu rendahnya rasio pajak terhadap PDB yang stagnan di angka 9% selama 20 tahun terakhir.

Menurutnya, tingkat pengumpulan pajak Indonesia masih tertinggal dibandingkan mitra ASEAN seperti Kamboja, yang naik dari 9% menjadi sekitar 18% dalam periode yang sama. Ia menegaskan bahwa upaya perbaikan fiskal tidak ditujukan pada wajib pajak mikro, melainkan pada perusahaan besar yang belum sepenuhnya mematuhi kewajiban. Peningkatan kepatuhan perusahaan diharapkan menjadi stimulus ekonomi yang efektif. Selain itu, pemerintah tengah mempercepat transformasi ekonomi melalui investasi di SDM sejak dini, seperti program Makan Bergizi Gratis, serta pengembangan industri bernilai tambah tinggi seperti semikonduktor.

Bobur menekankan bahwa untuk mencapai status negara berpendapatan tinggi, Indonesia perlu meningkatkan kontribusi manufaktur bernilai tinggi dari saat ini sekitar 9% menjadi 20%. Kolaborasi dengan ADB dalam pengembangan industri chip menjadi salah satu bukti konkret dari komitmen jangka panjang. Ia berharap di masa depan, Indonesia tidak lagi membutuhkan bantuan khusus dari ADB, melainkan mampu menggalang dana sendiri dengan kredit yang kuat, mencapai peringkat AAA dan menjadi model pembangunan bagi negara lain.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya