Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Indonesia Siap Perluas Pengaruh Ekonomi Syariah Global

Gubernur BI menegaskan potensi besar ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia, didukung pertumbuhan nilai halal dan penerbitan green sukuk yang melampaui ekonomi nasional.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 14 Oktober 2026, 17.32 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 160x dibuka
Indonesia Siap Perluas Pengaruh Ekonomi Syariah Global📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Indonesia berada pada posisi strategis untuk memperluas pengaruh ekonomi dan keuangan syariah di kancah global, sejalan dengan jumlah penduduk muslim yang besar serta nilai-nilai universal yang terkandung dalam prinsip syariah. Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menekankan bahwa peluang tersebut tidak terbatas pada negara berpenduduk muslim dominan, tetapi juga menjangkau pasar di negara dengan minoritas muslim, karena prinsip inklusivitas, keberlanjutan, dan keadilan menjadi relevan secara luas.

Dalam forum Indonesia Sharia Economic Festival 2026, Destry menyoroti bahwa Indonesia tetap berada di peringkat empat dunia dalam laporan State of the Global Islamic Economy 2025/2026. Meski pencapaian ini patut diapresiasi, ia menekankan perlunya kerja keras lebih lanjut untuk memperkuat fondasi sektor ini. Ia menilai bahwa nilai-nilai syariah, seperti keadilan dalam distribusi hasil ekonomi dan keberlanjutan lingkungan, dapat menjadi dasar bagi inovasi bisnis yang berkelanjutan di berbagai sektor.

Pertumbuhan ekonomi syariah dalam negeri terus menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Kemenko Perekonomian, rantai nilai produk halal tumbuh 5,5 persen per tahun pada triwulan II 2026, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Di sisi keuangan syariah, penerbitan green sukuk Indonesia mencapai 7,7 miliar dolar AS di pasar global dan Rp108,9 triliun di pasar domestik hingga Juni 2026. Meskipun jumlah tersebut signifikan, Destry menyebut porsi terhadap total obligasi pemerintah masih relatif kecil, menunjukkan ruang besar untuk ekspansi pasar.

Minat investor dari negara nonmuslim, termasuk dari Amerika Serikat dan Eropa, terus meningkat terhadap instrumen keuangan syariah, terutama green sukuk yang mendukung pembiayaan berkelanjutan. Destry menilai daya tarik produk ini berasal dari aset dasar yang jelas dan stabilitas relatif yang ditawarkan. Ia mengajak para pemangku kepentingan, termasuk Dewan Syariah Nasional MUI, untuk bersinergi dalam menciptakan produk keuangan syariah yang lebih beragam guna memenuhi permintaan pasar yang kuat dan terus berkembang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya