Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Indonesia Tetap Kuat Meski MSCI Revisi Klasifikasi Pasar

Fokus pada fundamental perusahaan yang tetap kuat, dengan laba emiten tumbuh 15% di semester I-2026, meski pasar modal menghadapi tekanan dari revisi klasifikasi MSCI.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 23 Oktober 2026, 15.35 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 13x dibuka
Indonesia Tetap Kuat Meski MSCI Revisi Klasifikasi Pasar📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kekhawatiran pasar modal Indonesia terhadap rencana perubahan klasifikasi oleh MSCI dari emerging market menjadi standalone market tidak serta-merta mencerminkan lemahnya kinerja perusahaan tercatat. Sebaliknya, data terbaru menunjukkan bahwa sejumlah besar emiten tetap mampu mencatatkan laba meskipun menghadapi dinamika global yang kompleks. Dalam konteks ini, BPI Danantara menegaskan bahwa kualitas bisnis perusahaan Indonesia perlu dievaluasi secara objektif, terlepas dari isu tata kelola dan transparansi yang masih menjadi perhatian bersama.

Dari 146 emiten dengan pendapatan tahunan di atas Rp5 triliun, sebanyak 134 perusahaan berhasil membukukan laba, menunjukkan ketahanan finansial yang signifikan. Pertumbuhan laba agregat pada semester pertama 2026 mencapai 15% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara pendapatan perusahaan tumbuh 7% secara tahunan. Angka-angka ini menegaskan bahwa sektor riil Indonesia tetap bergerak positif, bahkan di tengah ketidakpastian pasar global.

Di sisi lain, kondisi likuiditas perusahaan juga menunjukkan kekuatan. Pada kuartal II-2026, 121 emiten non keuangan memiliki total kas mencapai Rp583 triliun, meningkat 13% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jumlah kas yang besar ini memberi ruang bagi perusahaan untuk memperluas operasi, mengembangkan inovasi, atau menyerap peluang investasi, meski keputusan tersebut tetap harus didasarkan pada kesehatan keuangan dan kebutuhan operasional jangka panjang.

Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer Danantara, menekankan bahwa perbaikan pasar modal bukan hanya soal perubahan indeks, melainkan juga tentang memastikan perusahaan berkualitas bisa mendapatkan akses pendanaan yang layak dan masyarakat memiliki kesempatan untuk ikut serta dalam pertumbuhan ekonomi. Ia mendukung upaya sinergi antara OJK, BEI, Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat sistem secara holistik.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya