Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Investasi Besar Tapi Loker Minim, Anindya Soroti Ketimpangan Kerja

Ketua Umum Kadin Indonesia menyoroti minimnya lapangan kerja formal meski realisasi investasi mencapai triliunan rupiah, khususnya dari proyek padat modal seperti data center dan smelter.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 22 Oktober 2026, 17.34 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 27x dibuka
Investasi Besar Tapi Loker Minim, Anindya Soroti Ketimpangan Kerja📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, mempertanyakan kualitas investasi yang terus melonjak namun belum mampu menyerap tenaga kerja secara signifikan. Meski angka penanaman modal asing dan dalam negeri telah menembus angka Rp1.500 triliun, jumlah pekerja di sektor formal justru mengalami penurunan. Ia menekankan bahwa tidak semua bentuk investasi berdampak langsung terhadap penciptaan lapangan kerja, terutama di sektor yang bersifat padat modal seperti data center, smelter, dan hilirisasi bahan baku.

Anindya menjelaskan bahwa investasi berbasis teknologi ini membutuhkan sedikit tenaga kerja manusia karena ketergantungan tinggi pada otomasi dan sistem digital. Ia menekankan perlunya keseimbangan dalam arahan kebijakan investasi, agar tidak hanya mengejar nilai nominal besar, tetapi juga memperhatikan dampak sosial ekonomi, khususnya terhadap penyerapan tenaga kerja. Ia menyarankan pemerintah lebih memperhatikan sektor-sektor padat karya seperti pertanian, perkebunan, perikanan, garmen, sepatu, dan furnitur yang memiliki potensi besar dalam menciptakan pekerjaan formal.

Dalam konferensi pers di kantor Kadin, Anindya menegaskan bahwa daya saing produk lokal harus ditingkatkan agar bisa bersaing di pasar global, sekaligus menjadi penopang ekspor yang berbasis tenaga kerja. Ia menilai bahwa ekspor yang berbasis padat karya lebih berkelanjutan dan memberi manfaat luas bagi masyarakat. Selain itu, penguatan sektor informal juga menjadi fokus, dengan upaya pendampingan bagi pelaku usaha agar dapat beralih ke sektor formal dan meningkatkan kualitas produksi.

Ia menyoroti pentingnya peningkatan produktivitas kerja sebagai respons terhadap kenaikan upah minimum. Menurutnya, kenaikan gaji harus diikuti dengan peningkatan efisiensi dan kualitas output agar daya saing perusahaan tetap terjaga. Di tengah perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan, dunia usaha diminta mempersiapkan diri dengan manajemen risiko yang komprehensif, tanpa mengabaikan kesejahteraan pekerja.

Anindya menegaskan bahwa kemajuan ekonomi tidak hanya diukur dari volume investasi, tetapi juga dari inklusi, kualitas pekerjaan, dan pemerataan manfaat. Ia menekankan bahwa daya saing bukan sekadar slogan, melainkan kebutuhan mendesak untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan dan berkeadilan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya