Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Irak dan AS Perkuat Kerja Sama Energi dan Keamanan Pasca-Misi Militer

Kunjungan perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi ke Gedung Putih menegaskan komitmen bersama dalam menjaga stabilitas, mengelola keamanan, dan memperluas kolaborasi di sektor energi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 21.06 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Irak dan AS Perkuat Kerja Sama Energi dan Keamanan Pasca-Misi Militer📷 Tempo

Kendari, ıNarasikita - Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi melakukan kunjungan resmi pertamanya ke Gedung Putih pada Selasa 14 Juli 2026, bertemu langsung dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pertemuan ini menjadi momen penting dalam memperbarui hubungan bilateral, dengan fokus utama pada isu keamanan, investasi strategis, dan pengelolaan sumber daya energi nasional. Kedua pemimpin menegaskan komitmen untuk membangun kerja sama yang berkelanjutan dan saling menguntungkan.

Al-Zaidi menyatakan bahwa Irak kini memperketat aturan terkait kepemilikan senjata, menutup akses bagi pihak eksternal sejak penarikan misi militer Amerika pada 30 September mendatang. Ia menegaskan bahwa otoritas keamanan Irak telah melakukan penyitaan senjata dari sejumlah kelompok militer yang memiliki afiliasi dengan Iran. “Setelah 30 September, Irak tidak lagi mengizinkan pihak luar negara membawa senjata ke wilayahnya,” tegasnya, menekankan prinsip kedaulatan penuh atas keamanan nasional.

Trump menyambut kunjungan tersebut dengan pujian, menyebut al-Zaidi sebagai pemimpin yang visioner dan berani. Ia menyatakan optimisme terhadap masa depan hubungan AS-Irak, menekankan bahwa Amerika akan selalu mendukung Irak, baik dalam bentuk bantuan maupun perlindungan jika diperlukan. Trump juga menyoroti Iran sebagai ancaman bersama, menyatakan bahwa kepentingan Irak dan Amerika sejalan dalam menghadapi gangguan di kawasan Timur Tengah.

Dalam kesempatan itu, kedua pihak menyepakati penandatanganan memorandum kerja sama energi dalam pekan depan. Trump menekankan potensi besar Irak dalam produksi minyak, yang diharapkan menjadi fondasi baru bagi pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, al-Zaidi menegaskan bahwa Irak berupaya mengubah hubungan dengan AS dari model manajemen krisis menjadi mitra ekonomi dan investasi jangka panjang, dengan tetap menjaga netralitas dalam konflik regional.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya