Senin, 26 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Islandia Pilih Tidak Kembali ke Negosiasi Keanggotaan Uni Eropa

Hasil referendum menolak kelanjutan negosiasi keanggotaan Uni Eropa, dengan 52,8% pemilih memilih "tidak" terhadap proposal tersebut.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.40 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Islandia Pilih Tidak Kembali ke Negosiasi Keanggotaan Uni Eropa📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pemilih Islandia menolak secara resmi rencana melanjutkan negosiasi keanggotaan Uni Eropa dalam pemungutan suara yang digelar pada Sabtu, menutup proses politik yang sempat menghangat sejak 2015. Hasil akhir menunjukkan 52,8% memilih menolak, sementara 47,2% mendukung, dengan perhitungan suara selesai setelah berlangsung sepanjang malam. Reykjavik menjadi satu-satunya wilayah yang mayoritas mendukung gagasan bergabung, mencerminkan perbedaan regional yang tajam terhadap kebijakan luar negeri dan integrasi ekonomi.

Ketegangan politik yang muncul akibat pernyataan Presiden AS Donald Trump soal Greenland menjadi salah satu faktor krusial dalam kampanye referendum. Ancaman yang dilontarkan secara berulang terhadap wilayah kutub tersebut memperkuat narasi bahwa keterikatan dengan Eropa bisa menjadi jaminan keamanan jangka panjang. Meski Islandia sudah menjadi anggota NATO, pendukung keanggotaan menekankan perlindungan kolektif yang lebih kuat melalui integrasi politik dan ekonomi dengan blok Eropa.

Pemerintah koalisi kiri yang terpilih tahun 2024 mempercepat jadwal referendum setelah Trump menyebut Islandia secara keliru empat kali dalam pidato terkait ambisi atas Greenland. Perdana Menteri Kristrún Frostadóttir, yang menjadi tokoh utama dalam kampanye pendukung, menyampaikan harapan agar hasil ini tidak memperdalam perpecahan sosial. Ia menegaskan bahwa meski emosi tinggi, dialog terbuka telah terjalin dengan berbagai kelompok di seluruh negeri, menciptakan ruang untuk menerima hasil secara damai.

Argumen utama dari kelompok penolak berpusat pada kekhawatiran atas kedaulatan nasional, terutama dalam sektor perikanan yang menjadi tulang punggung ekonomi. Mereka menekankan bahwa Islandia sudah menikmati akses pasar bebas Uni Eropa serta kebebasan perjalanan Schengen tanpa harus menjadi anggota penuh. Sementara itu, pendukung menekankan manfaat stabilitas ekonomi, termasuk pengurangan inflasi dan suku bunga melalui penggunaan euro, serta keunggulan dalam menghadapi tantangan lintas batas seperti perubahan iklim.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya