Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Jaksa Soroti Pura-Pura dalam Kasus Gratifikasi Bea Cukai

Jaksa menyoroti ketidaksesuaian antara citra instansi dengan realitas lapangan melalui referensi lagu God Bless dan Dewa 19 dalam sidang terdakwa kasus gratifikasi Rp7,6 miliar.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 17.51 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Jaksa Soroti Pura-Pura dalam Kasus Gratifikasi Bea Cukai
Foto: Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Sidang kasus dugaan gratifikasi senilai Rp7,6 miliar di lingkungan Direktorat Jenderal Bea Cukai kembali mencatatkan momen menarik saat Jaksa Penuntut Umum menyampaikan pembukaan dengan pendekatan kritis terhadap budaya pencitraan di instansi pemerintah. Dalam kesempatan tersebut, jaksa menyinggung dua lagu populer—Panggung Sandiwara dari God Bless dan Hadapi Dengan Senyuman karya Dewa 19—sebagai metafora atas praktek yang menutupi kenyataan di lapangan.

Pernyataan itu disampaikan dalam sidang yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, dengan terdakwa Budiman Bayu Prasojo, mantan Kepala Seksi Intelijen Cukai P2 DJBC Bea Cukai. Jaksa menegaskan bahwa upaya pencegahan korupsi yang telah dilakukan KPK secara rutin di berbagai kantor Bea Cukai dinilai tidak berdampak signifikan, mengingat kasus ini terungkap meski telah ada serangkaian sosialisasi.

Dengan nada tegas, jaksa menyampaikan bahwa banyak instansi, termasuk Bea Cukai, cenderung menampilkan citra bersih di publik, sementara di lapangan justru terjadi praktik yang bertentangan dengan nilai-nilai transparansi dan akuntabilitas. Referensi terhadap dua lagu tersebut dimaksudkan untuk menyoroti adanya peran yang dipertontonkan—bukan kebenaran—dalam struktur kerja birokrasi yang sering kali mengabaikan kenyataan lapangan.

Sidang ini menjadi momentum penting dalam menunjukkan bahwa upaya pencegahan korupsi tidak cukup hanya dilakukan secara formal, tetapi harus diikuti dengan perubahan budaya kerja yang mendasar. Penekanan terhadap ketidaksesuaian antara narasi dan realitas diharapkan mampu memicu refleksi mendalam di kalangan aparatur negara agar tidak hanya bermain sandiwara dalam menjalankan tugas.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya