Senin, 26 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Jembatan Kuno Muncul Usai 400 Tahun di Danau Poyang

Jembatan granit berusia hampir empat abad muncul kembali di Danau Poyang, Jiangxi, saat air turun di bawah ambang 10,5 meter.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 15 Oktober 2026, 21.02 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 32x dibuka
Jembatan Kuno Muncul Usai 400 Tahun di Danau Poyang📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Permukaan Danau Poyang di Provinsi Jiangxi, China, mengalami penurunan signifikan dalam beberapa waktu terakhir, membuka kembali struktur arkeologis bersejarah yang telah terendam selama lebih dari empat abad. Jembatan yang dikenal sebagai Qianyan, atau "Jembatan Seribu Mata", muncul kembali setelah sekian lama tersembunyi di bawah air. Struktur ini memiliki panjang mencapai 2.657 meter dan dibangun menggunakan batu granit, menunjukkan tingkat teknik konstruksi yang tinggi pada masa Dinasti Ming.

Jembatan tersebut pertama kali dibangun pada periode 1368–1644 M, masa kejayaan dinasti yang membangun infrastruktur strategis di berbagai wilayah. Keberadaannya yang kembali terlihat hanya terjadi saat air danau menyusut hingga di bawah ambang 10,5 meter, kondisi yang jarang terjadi dalam rentang waktu yang panjang. Fenomena ini menarik perhatian para peneliti dan pecinta sejarah, yang melihatnya sebagai bukti arkeologis penting dari peradaban kuno.

Ketika air turun, jembatan yang sebelumnya terendam sepenuhnya itu terlihat dengan jelas, menunjukkan kerapian susunan batu dan desain yang tahan terhadap waktu. Keberadaan struktur ini tidak hanya menarik dari sisi sejarah, tetapi juga menjadi perhatian terhadap dampak perubahan iklim dan curah hujan yang menurun di wilayah tersebut. Pemerintah setempat telah menyiapkan langkah perlindungan terhadap situs ini untuk mencegah kerusakan akibat aktivitas manusia.

Fenomena munculnya jembatan kuno ini menjadi peringatan tentang bagaimana perubahan lingkungan dapat mengungkapkan warisan masa lalu yang tersembunyi. Kehadirannya kembali mengingatkan masyarakat akan pentingnya pelestarian situs bersejarah, terlebih dalam konteks perubahan iklim yang semakin memengaruhi ekosistem dan kawasan alam.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya