Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Kekurangan Listrik Picu Krisis Guru di Sekolah Kuba

Krisis energi di Kuba menyebabkan pemadaman berulang yang mengganggu aktivitas sekolah dan menyebabkan penurunan jumlah tenaga pengajar hingga 27 persen.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 20.29 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kekurangan Listrik Picu Krisis Guru di Sekolah Kuba
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kondisi listrik yang tidak menentu di Kuba kini menjadi penghambat utama dalam penyelenggaraan pendidikan. Pemadaman berkepanjangan menyebabkan sejumlah sekolah membatasi jam belajar, menunda pembukaan tahun ajaran, bahkan memperbolehkan siswa belajar secara daring atau tanpa seragam. Kondisi ini makin memperparah keterbatasan infrastruktur yang sudah ada sebelumnya.

Dalam tahun ajaran 2026–2027, sekitar 1,5 juta siswa kembali ke kelas, tetapi jumlah guru yang hadir hanya mencapai 73 persen dari jumlah yang seharusnya tersedia. Data resmi menunjukkan angka ini merupakan yang terendah dalam beberapa tahun terakhir, menandakan penurunan signifikan dalam ketersediaan tenaga pendidik. Banyak guru memilih tidak hadir atau bahkan pindah ke daerah lain karena keterbatasan akses listrik dan fasilitas dasar.

Menteri Pendidikan Kuba, Naima Trujillo, mengakui bahwa sistem pendidikan sedang menghadapi tekanan besar akibat embargo minyak, krisis bahan pokok, dan keterbatasan energi. Ia menyatakan bahwa kebijakan fleksibel diterapkan di tingkat sekolah untuk menyesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah. Namun, fleksibilitas ini tidak mampu menutupi krisis struktural yang muncul dari kekurangan listrik dan infrastruktur yang tidak memadai.

Pemadaman listrik yang terus terjadi tidak hanya mengganggu proses belajar mengajar, tetapi juga berdampak pada kehidupan sehari-hari, termasuk kesehatan, komunikasi, dan keamanan. Guru yang harus mengajar tanpa listrik, tanpa alat tulis, atau bahkan tanpa akses ke perangkat digital mengalami tekanan psikologis dan fisik yang tinggi. Akibatnya, banyak di antara mereka memilih untuk tidak kembali mengajar atau mencari pekerjaan di luar sektor pendidikan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa krisis energi bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga menyangkut keberlangsungan sistem sosial penting seperti pendidikan. Tanpa solusi jangka panjang terhadap keterbatasan listrik, kualitas pendidikan akan terus terancam, dan generasi muda Kuba berisiko kehilangan akses terhadap pendidikan yang layak.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya