Senin, 26 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Keluarga Korban Banjir Nepal Pasang Foto Pencarian di Rumah Sakit

Ribuan orang hilang pasca banjir bandang di Nepal, keluarga korban berbondong-bondong ke rumah sakit mencari kepastian dengan memasang foto di dinding.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.35 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Keluarga Korban Banjir Nepal Pasang Foto Pencarian di Rumah Sakit📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Lebih dari tiga ribu jiwa masih hilang pasca bencana banjir bandang yang menghantam wilayah pegunungan Nepal dan Tibet, lima hari setelah peristiwa mengerikan itu terjadi. Di tengah keterbatasan akses dan informasi, banyak keluarga yang belum menerima kabar dari anggota mereka, sehingga terpaksa menempuh cara ekstrem untuk mencari kepastian. Di rumah sakit pendidikan Universitas Tribhuvan di Kathmandu, kerabat korban berkumpul dengan harapan menemukan tanda-tanda kehidupan dari orang yang dicintai.

Di kamar mayat kota Chitwan, yang kewalahan menampung ratusan jenazah, bangunan darurat dibangun untuk menangani lonjakan korban. Sementara di dalam rumah sakit, suasana tegang menyelimuti setiap sudut. Kerabat yang putus asa memeriksa daftar pasien, berjalan bolak-balik antar bangsal, mencari nama yang mungkin masih hidup. Di dinding rumah sakit, foto-foto korban yang hilang berjejer rapi, menampilkan wajah-wajah dari berbagai usia dan latar belakang. Seorang siswi tersenyum dalam seragam sekolah, bayi dengan pipi tembam, pasangan suami istri dalam foto pernikahan, hingga pemuda berpose di puncak gunung.

Yavraj Lama, salah satu keluarga yang kehilangan anggota, menempelkan foto bayi satu tahun, Sijan Tawang, di dinding rumah sakit. Di sampingnya, foto kakaknya, Sahil, berusia 12 tahun, tergantung dengan tenang. “Kami merasa mati rasa. Tidak ada kata yang cukup untuk menggambarkan perasaan ini,” ujarnya dengan suara bergetar. Ia menyebut bayi Sijan sebagai sosok yang sangat polos dan manis, hingga sulit dipercaya bahwa ia tak lagi bersama keluarga.

Seluruh desa Jaydada di distrik Rusawa, tempat keluarga Lama tinggal, telah hanyut terbawa banjir. Dengan wilayah yang terisolasi dan infrastruktur hancur, tidak ada lagi harapan untuk menemukan korban yang selamat. Meski begitu, mereka tetap berpegang pada harapan terakhir dengan memasang foto dan mencatat nama-nama di meja polisi, berharap informasi bisa datang dari mana saja. Setiap wajah yang dipajang adalah bukti bahwa kehilangan ini bukan sekadar angka, tapi cerita nyata dari kehidupan yang terenggut dalam sekejap.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya