Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Kemenkeu Jamin Resiliensi Ekonomi Hadapi Penurunan Status MSCI

Kementerian Keuangan menegaskan ekonomi Indonesia tetap kuat meski ada ancaman penurunan peringkat pasar saham oleh MSCI, berkat ketahanan APBN dan fundamental yang solid.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 22 Oktober 2026, 23.23 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 91x dibuka
Kemenkeu Jamin Resiliensi Ekonomi Hadapi Penurunan Status MSCI📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kementerian Keuangan memperkuat keyakinan terhadap ketahanan ekonomi nasional, meskipun ada spekulasi penurunan status pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) menjadi kategori standalone. Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan, Herman Saheruddin, menekankan bahwa sektor keuangan dan fondasi ekonomi tetap stabil, didukung oleh pengelolaan APBN yang strategis sebagai alat penyerap risiko.

Ia menjelaskan bahwa APBN berperan sebagai peredam (shock absorber) dalam kondisi gejolak global, terutama dalam menjaga harga bahan bakar minyak bersubsidi agar tetap terkendali. Menurutnya, mekanisme ini memungkinkan stabilitas harga tetap terjaga meski terjadi tekanan dari pasar internasional.

Pertumbuhan ekonomi diperkirakan tumbuh di atas 5% pada kuartal III-2026, sesuai proyeksi pemerintah yang lebih optimistis dibandingkan target APBN 2026 sebesar 5,4%. Di sisi lain, data dari Dana Moneter Internasional (IMF) menempatkan Indonesia pada posisi ketujuh dunia berdasarkan paritas daya beli (PPP), menunjukkan kesehatan ekonomi yang relatif kuat dibanding negara lain.

Dalam forum tahunan IMF dan Bank Dunia, Indonesia serta negara-negara ASEAN lainnya dianggap sebagai salah satu sorotan positif di kawasan Asia Pasifik. Pemerintah juga menyebut reformasi pasar modal yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memberikan dampak nyata, terbukti dari kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke level 5.387,91, naik 1,12% atau 59,54 poin dalam perdagangan hari itu.

Peningkatan ini didukung oleh kebijakan teknis seperti penyesuaian free float dan pengurangan konsentrasi kepemilikan saham (High Shareholding Concentration), yang disebut sudah mulai menunjukkan hasil positif. Herman menegaskan bahwa seluruh langkah tersebut merupakan bagian dari upaya sistemik untuk memperkuat tata kelola pasar keuangan dan mempertahankan kepercayaan investor.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya