Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Kerja Sama Militer Al-Shabaab dan Houthi Meningkatkan Ancaman di Laut Merah

Kolaborasi antara Al-Shabaab dan Houthi melalui jaringan penghubung Jibril memperkuat aliran senjata dan pelatihan, memicu kekhawatiran AS atas ancaman baru di kawasan Laut Merah dan Teluk Aden.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 23.44 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kerja Sama Militer Al-Shabaab dan Houthi Meningkatkan Ancaman di Laut Merah
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kerja sama militer antara Al-Shabaab, kelompok teroris berbasis di Somalia yang merupakan sayap Al-Qaeda, dan Houthi di Yaman telah menunjukkan peningkatan signifikan dalam koordinasi strategis. Kedua kelompok yang sebelumnya berseteru karena perbedaan sektarian kini saling mendukung dalam hal akses senjata, pelatihan militer, serta dukungan keuangan. Kemitraan ini didukung oleh jaringan penghubung yang beroperasi di Yaman, khususnya melalui tokoh bernama Jibril "Si Tangan Satu" Yahya Ali, yang telah menjadi pusat komunikasi sejak 2023.

Jibril, yang memiliki koneksi kuat di kedua wilayah, memfasilitasi pertukaran peralatan militer dan pengiriman logistik antara kedua kelompok. Menurut intelijen militer AS, Al-Shabaab membutuhkan persenjataan canggih dan pelatihan, sementara Houthi membutuhkan dana dan basis operasi baru. Dalam upaya ini, Al-Shabaab mengirim utusan senior, Sheikh Ahmed Elmi Samatar, ke Yaman untuk menyusun daftar kebutuhan senjata yang mencakup drone serang, rudal anti-tank, senapan sniper, serta peralatan penglihatan malam buatan AS.

Pengiriman senjata dilakukan secara tersembunyi melalui perusahaan samaran di Yaman yang menyamarkan barang sebagai barang dagangan biasa. Senjata kemudian dikirim melalui perahu cepat atau kapal nelayan dari pelabuhan Yaman menuju wilayah pantai Somalia utara, yang memiliki pengawasan yang lebih longgar. Setelah menyeberang Teluk Aden, senjata tersebut disalurkan ke unit-unit militer Al-Shabaab di Somalia selatan, tempat kelompok tersebut memperkuat posisi mereka.

Pada 12 Februari, serangan udara AS menewaskan Jibril saat ia bersama istrinya sedang berkendara di dekat Mukalla. Rudal menghantam atap mobil mereka, menghancurkan kendaraan meski tidak meledak. Dua sumber AS mengonfirmasi keberhasilan operasi tersebut, meski Komando Pusat AS tidak mengakui sebagai operasi militer resmi, sementara CIA menolak memberikan keterangan. Setelah kematian Jibril, Al-Shabaab menunjuk pengganti untuk melanjutkan komunikasi dan pengiriman senjata.

Pada April 2025, AS menghancurkan dua kapal tanpa bendera yang bergerak dari Yaman menuju perairan Somalia, yang diperkirakan membawa senjata konvensional canggih. Meski belum diketahui secara pasti jenis senjata yang telah tiba, ancaman penggunaan drone serang dan sistem tempur udara oleh Al-Shabaab telah memicu kekhawatiran serius di kalangan militer AS dan Somalia. Seorang mantan komandan pasukan khusus Somalia menyatakan bahwa meski rencana pasti belum terungkap, jelas ada aktivitas strategis yang sedang direncanakan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya