Kredit Perbankan Melonjak 13,26%, Didorong Swasta dan Ekspor Non-Migas
Pertumbuhan kredit perbankan mencapai 13,26% pada September 2026, tertinggi dalam dekade terakhir, didorong oleh kinerja sektor swasta dan ekspor non-minyak bumi.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 23 Oktober 2026, 21.23 WITA·👁 2 orang membaca· 1 hari ini · 40x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pertumbuhan kredit perbankan sebesar 13,26% pada bulan September 2026 mencatat rekor tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir, menunjukkan kekuatan ekonomi domestik yang tetap stabil meski dihadapkan pada tekanan eksternal global. Angka ini menggambarkan respons positif pelaku usaha terhadap peluang pertumbuhan, terutama di sektor ekspor non-migas yang menunjukkan tren meningkat secara konsisten.
Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia menekankan bahwa ekspansi kredit bukan hanya hasil dari stimulus pemerintah, tetapi lebih didorong oleh kepercayaan sektor swasta terhadap prospek ekonomi dalam negeri. Ia menyoroti bahwa pelaku usaha secara aktif memanfaatkan peluang dari sektor-sektor strategis seperti ekspor non-minyak bumi, yang menjadi pendorong utama kenaikan kredit tanpa ketergantungan berlebihan pada program pemerintah.
Kontribusi sektor swasta terhadap pertumbuhan kredit mencapai 11 persen poin, menandakan pemulihan mandiri di sektor non-pemerintah. Sementara itu, program pemerintah turut berkontribusi sebesar 2 persen poin, menunjukkan sinergi antara kebijakan publik dan dinamika pasar. Untuk menjaga momentum ini, BI memperkuat kebijakan moneter dengan menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) secara bertahap bagi bank umum konvensional dan syariah, mulai 1 November 2026 hingga mencapai level terendah pada Desember.
Penurunan GWM disertai penyesuaian insentif likuiditas makroprudensial (KLM) dari 6% menjadi 5%, serta pengurangan insentif financing channel dari 4% menjadi 3%, dengan perluasan cakupan ke sektor yang berdampak pada penciptaan lapangan kerja. Insentif pendalaman pasar uang juga diperkuat hingga 2% untuk memperkuat aliran likuiditas dan efisiensi intermediasi perbankan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Pezeshkian dan Putin Bahas Kerja Sama Ekonomi dan Geopolitik di Moskow
Presiden Iran Masoud Pezeshkian akan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin pada akhir Oktober di Moskow untuk membahas kerja sama ekonomi, energi, dan isu global tanpa penandatanganan dokumen.
24 Oktober 2026

AsetKu Perkuat Literasi Keuangan Digital di Jakarta
AsetKu hadir dalam Jakarta Financial Festival 2026 untuk tingkatkan pemahaman masyarakat terhadap layanan keuangan digital secara bijak dan inklusif.
24 Oktober 2026

Produk UMKM Ramah Lingkungan Siap Eksplorasi Pasar Global
Menteri Perindustrian optimistis produk fesyen dan kerajinan berbahan alami dari UMKM Indonesia mampu menembus pasar internasional berkat meningkatnya kesadaran global terhadap lingkungan dan kesehatan.
24 Oktober 2026

OJK Dorong Aktivitas Rekening Rp50 Ribu Agar Tak Jadi Dormant
OJK memperkuat edukasi dan pendampingan keuangan untuk memastikan rekening program Rp50 ribu tetap aktif, khususnya di kalangan pelajar dan masyarakat kelas menengah ke bawah.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Operasi Narkoba Jayapura Gagalkan Peredaran Ganja dan Amankan Senjata Ilegal
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.55 WITA

Pemerintah Bangun 66 Hunian Tetap untuk Korban Bencana di Lhokseumawe
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.54 WITA

Pengadilan Niaga Batalkan Sanksi KPPU ke 97 Pinjol
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.54 WITA

Festival Jajanan Bango 2026 Dorong Pertumbuhan UMKM Kuliner
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Nex Carlos Jajal Inovasi Kuliner Lokal di FJB 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Ekspor Kecap Indonesia Tembus 18,81 Juta Dolar AS hingga Agustus
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Panas atau Dingin, Apakah Suhu Kopi Pengaruhi Kesehatan?
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.49 WITA

Empat Acara Besar Serentak Guncang GBK, Dinas Perhubungan Siapkan Langkah Antisipasi
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.39 WITA

