Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Krisis Memori Global Picu Perubahan Strategi Beli HP

Kenaikan harga dan penurunan spesifikasi smartphone global disebabkan kelangkaan chip memori akibat alih produksi ke chip AI, memaksa konsumen menyesuaikan prioritas beli.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 5 September 2026, 07.46 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Krisis Memori Global Picu Perubahan Strategi Beli HP
Foto: Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Tren membeli smartphone kini berubah drastis di tengah krisis pasokan memori global yang berdampak hingga 2026. Bukan lagi soal kecepatan prosesor atau resolusi kamera tinggi, melainkan daya tahan baterai sepanjang hari, performa stabil setelah dua tahun pemakaian, serta kemudahan akses suku cadang. Ketiga aspek ini kini menjadi kriteria utama dalam pengambilan keputusan pembelian, bukan sekadar fitur tambahan. Perubahan ini bukan akibat pergeseran preferensi konsumen, melainkan refleksi realitas industri yang terdampak ketidakseimbangan rantai pasok.

Pemicu utama krisis ini adalah pergeseran produksi memori global oleh perusahaan besar seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron. Mereka memprioritaskan produksi High Bandwidth Memory (HBM), chip khusus untuk kebutuhan kecerdasan buatan, karena margin keuntungan yang jauh lebih tinggi—tiga hingga lima kali lipat dibanding memori untuk smartphone biasa. Akibatnya, sekitar 70 persen kapasitas produksi memori global dialihkan ke HBM, menyebabkan pasokan DRAM dan NAND Flash hanya tumbuh 16 persen dan 17 persen saja pada 2026, jauh di bawah kebutuhan pasar normal sekitar 20–30 persen.

Lonjakan harga memori pun tak terhindarkan. Pada kuartal pertama 2026, DRAM global melonjak lebih dari 50 persen dalam waktu tiga bulan, sementara NAND Flash naik lebih dari 90 persen. Di kuartal kedua, total biaya memori meningkat hampir 300 persen dibanding tahun sebelumnya—angka tertinggi dalam sejarah industri. Francisco Jeronimo, Wakil Presiden Perangkat Klien IDC secara global, menyebut kondisi ini sebagai "guncangan tsunami dari rantai pasok memori", sementara Ryan Reith menegaskan bahwa kelangkaan ini merupakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah yang akan berdampak panjang hingga akhir tahun.

Dampak langsungnya terlihat dari kenaikan harga rata-rata smartphone global menjadi Rp10,4 juta per unit—naik 27,6 persen dari proyeksi awal Rp9,4 juta. Angka ini mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah industri. Untuk menekan biaya, produsen melakukan penyesuaian teknis secara diam-diam: beberapa flagship tetap menggunakan RAM 12GB tanpa naik ke 16GB, model kelas menengah mengurangi kapasitas RAM dan penyimpanan tanpa mengubah nama produk, serta komponen lain ikut dipangkas. Perubahan ini mengharuskan konsumen lebih kritis dalam memilih perangkat, bukan hanya melihat angka spesifikasi, tetapi memahami nilai jangka panjang dari produk yang dibeli.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya