Kritisnya Gambut Indonesia, Ancaman Banjir dan Asap Berulang
Kondisi gambut di Indonesia semakin parah akibat drainase dan alih fungsi lahan, memicu risiko kebakaran dan banjir yang berulang tanpa terhindar.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 22 Oktober 2026, 17.35 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 44x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Kerusakan ekosistem gambut di Indonesia kini mencapai titik kritis, menimbulkan ancaman ganda berupa kebakaran hutan dan banjir yang berulang. Dengan fungsi alami sebagai penampung air sejak ribuan tahun, lahan gambut yang telah mengalami pengeringan akibat drainase masif kehilangan kemampuannya menyimpan air. Hal ini memperparah potensi banjir saat musim hujan dan memperpanjang kekeringan saat kemarau, terutama di wilayah rawan seperti Kalimantan Barat dan Sulawesi Tenggara.
Ahli gambut tropis dan penulis laporan IPCC, Gusti Zakaria Anshari, menegaskan bahwa aktivitas manusia selama empat dekade terakhir telah mengubah fungsi gambut dari ekosistem alami menjadi lahan produktif yang rentan terbakar. Sejak era Orde Baru, gambut digunakan untuk proyek transmigrasi dan perkebunan dengan drainase yang luas, mengubah tanah basah menjadi kering. Kondisi ini menciptakan media bakar ideal, terutama setelah tumbuhan seperti pakis tumbuh di atasnya dan menjadi bahan bakar mudah terbakar saat kering.
Kebakaran gambut tidak hanya sulit dipadamkan karena terjadi di bawah permukaan tanah, tetapi juga menghasilkan asap tebal yang menyebabkan polusi udara berkepanjangan. Dampaknya menjangkiti kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan lansia, serta mengganggu aktivitas ekonomi dan pendidikan. Bahkan dalam kondisi normal tanpa El Niño, kebakaran gambut terjadi tiap tahun, menunjukkan bahwa sistem ekologis telah melampaui ambang batas keberlanjutan.
Pakar menilai, Indonesia kini berada di ambang titik balik (tipping point), di mana kerusakan gambut yang terus berlanjut dapat menyebabkan kerusakan ekosistem permanen. Biaya penanganan bencana, termasuk operasi helikopter dan pasukan pemadam, mencapai miliaran rupiah per tahun. Namun, kerugian jangka panjang—seperti penurunan kualitas SDM dan kerusakan lingkungan—jauh lebih besar dan sulit diukur secara langsung.
Dari data paleo, kebakaran alam memang pernah terjadi dalam skala ribuan tahun, tetapi tidak menyebabkan kerusakan permanen. Kini, ancaman datang dari aktivitas manusia yang terus-menerus mengganggu keseimbangan alam. Upaya pemulihan ekosistem gambut membutuhkan pendekatan berkelanjutan, termasuk larangan pembukaan lahan baru dan restorasi lahan yang telah rusak.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

14 Lokasi Piknik Unik yang Menyuguhkan Sejarah dan Keindahan Tak Biasa
Berbagai tempat piknik di dunia menawarkan pengalaman berbeda, dari bekas tambang hingga reruntuhan kastel, dengan nuansa sejarah dan alam yang menarik.
24 Oktober 2026

16 Wilayah Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang Hari Ini
BMKG memperingatkan 16 wilayah di Indonesia berpotensi hujan lebat hingga sangat lebat serta angin kencang, didorong dinamika atmosfer regional dan lokal pada Sabtu (24/10).
24 Oktober 2026

Musim Hujan 2026/2027 Tiba Lebih Lambat, BMKG Peringatkan Potensi Bencana
Prediksi BMKG menunjukkan musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia mulai mundur hingga November hingga Desember, dengan risiko banjir dan longsor meningkat di akhir tahun.
24 Oktober 2026

NASA Tancap Gas untuk Misi Pendaratan Manusia di Bulan 2028
NASA menegaskan komitmen mendaratkan astronot di permukaan bulan pada 2028 melalui misi Artemis IV, dengan dukungan SpaceX dan Blue Origin dalam pengembangan wahana pendaratan.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Pezeshkian dan Putin Bahas Kerja Sama Ekonomi dan Geopolitik di Moskow
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.55 WITA

Operasi Narkoba Jayapura Gagalkan Peredaran Ganja dan Amankan Senjata Ilegal
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.55 WITA

Pemerintah Bangun 66 Hunian Tetap untuk Korban Bencana di Lhokseumawe
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.54 WITA

Pengadilan Niaga Batalkan Sanksi KPPU ke 97 Pinjol
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.54 WITA

Festival Jajanan Bango 2026 Dorong Pertumbuhan UMKM Kuliner
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

AsetKu Perkuat Literasi Keuangan Digital di Jakarta
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Nex Carlos Jajal Inovasi Kuliner Lokal di FJB 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Ekspor Kecap Indonesia Tembus 18,81 Juta Dolar AS hingga Agustus
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

