Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Kritisnya Gambut Indonesia, Ancaman Banjir dan Asap Berulang

Kondisi gambut di Indonesia semakin parah akibat drainase dan alih fungsi lahan, memicu risiko kebakaran dan banjir yang berulang tanpa terhindar.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 22 Oktober 2026, 17.35 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 44x dibuka
Kritisnya Gambut Indonesia, Ancaman Banjir dan Asap Berulang📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kerusakan ekosistem gambut di Indonesia kini mencapai titik kritis, menimbulkan ancaman ganda berupa kebakaran hutan dan banjir yang berulang. Dengan fungsi alami sebagai penampung air sejak ribuan tahun, lahan gambut yang telah mengalami pengeringan akibat drainase masif kehilangan kemampuannya menyimpan air. Hal ini memperparah potensi banjir saat musim hujan dan memperpanjang kekeringan saat kemarau, terutama di wilayah rawan seperti Kalimantan Barat dan Sulawesi Tenggara.

Ahli gambut tropis dan penulis laporan IPCC, Gusti Zakaria Anshari, menegaskan bahwa aktivitas manusia selama empat dekade terakhir telah mengubah fungsi gambut dari ekosistem alami menjadi lahan produktif yang rentan terbakar. Sejak era Orde Baru, gambut digunakan untuk proyek transmigrasi dan perkebunan dengan drainase yang luas, mengubah tanah basah menjadi kering. Kondisi ini menciptakan media bakar ideal, terutama setelah tumbuhan seperti pakis tumbuh di atasnya dan menjadi bahan bakar mudah terbakar saat kering.

Kebakaran gambut tidak hanya sulit dipadamkan karena terjadi di bawah permukaan tanah, tetapi juga menghasilkan asap tebal yang menyebabkan polusi udara berkepanjangan. Dampaknya menjangkiti kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan lansia, serta mengganggu aktivitas ekonomi dan pendidikan. Bahkan dalam kondisi normal tanpa El Niño, kebakaran gambut terjadi tiap tahun, menunjukkan bahwa sistem ekologis telah melampaui ambang batas keberlanjutan.

Pakar menilai, Indonesia kini berada di ambang titik balik (tipping point), di mana kerusakan gambut yang terus berlanjut dapat menyebabkan kerusakan ekosistem permanen. Biaya penanganan bencana, termasuk operasi helikopter dan pasukan pemadam, mencapai miliaran rupiah per tahun. Namun, kerugian jangka panjang—seperti penurunan kualitas SDM dan kerusakan lingkungan—jauh lebih besar dan sulit diukur secara langsung.

Dari data paleo, kebakaran alam memang pernah terjadi dalam skala ribuan tahun, tetapi tidak menyebabkan kerusakan permanen. Kini, ancaman datang dari aktivitas manusia yang terus-menerus mengganggu keseimbangan alam. Upaya pemulihan ekosistem gambut membutuhkan pendekatan berkelanjutan, termasuk larangan pembukaan lahan baru dan restorasi lahan yang telah rusak.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya