Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Kualitas Udara Palembang Menurun dari Bahaya ke Tidak Sehat

Kualitas udara di Palembang kini berada pada kategori tidak sehat, setelah sebelumnya mencapai level sangat berbahaya akibat kabut asap karhutla, dengan penurunan signifikan berkat operasi modifikasi cuaca.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 19 Oktober 2026, 09.01 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 91x dibuka
Kualitas Udara Palembang Menurun dari Bahaya ke Tidak Sehat📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kualitas udara di Kota Palembang kini menunjukkan perbaikan signifikan, bergerak dari kategori sangat berbahaya menuju tidak sehat. Pada Minggu (18/10), indeks kualitas udara berada pada level kuning, menandakan kondisi yang membahayakan bagi kelompok rentan, namun jauh lebih baik dibandingkan puncak krisis sebelumnya. Data dari Stasiun PM2.5 Musi 2 mencatat konsentrasi partikel halus PM2.5 pada pukul 14.00 WIB sebesar 88,6 mikrogram per meter kubik, sesuai kategori tidak sehat menurut standar BMKG.

Sebelumnya, pada awal hingga pertengahan Oktober 2026, konsentrasi PM2.5 sempat melonjak ekstrem, mencapai angka lebih dari 1.000 µg/m³ di beberapa titik pemantauan seperti Musi 2 dan Talang Betutu. Angka tersebut jauh melampaui batas aman, yang didefinisikan sebagai 25 µg/m³ dalam 24 jam. Peningkatan drastis ini disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan yang tersebar luas di wilayah Sumatera Selatan, memicu kabut asap yang merata dan mengganggu aktivitas harian masyarakat.

Penurunan kualitas udara itu mulai terkendali setelah BNPB melaksanakan operasi modifikasi cuaca selama dua hari berturut-turut, yaitu pada 15 dan 16 Oktober 2026. Dalam operasi tersebut, dilakukan penyemaian dry ice untuk mendorong terbentuknya hujan buatan, yang secara efektif mengurangi partikel asap di atmosfer. Hasilnya, jarak pandang meningkat secara signifikan, serta konsentrasi polutan menurun secara bertahap.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel menyebutkan bahwa tren perbaikan kualitas udara terus berlanjut sejak beberapa hari terakhir. Ia menyampaikan rasa syukur atas penurunan tingkat bahaya, meski tetap mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada, terutama bagi lansia, anak-anak, dan penderita gangguan pernapasan. Upaya mitigasi seperti ini, menurutnya, menjadi langkah penting dalam menangani dampak lingkungan akibat kebakaran lahan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya