Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Lagu "Maju Tak Gentar" dan Perjalanan Semangat Kebangsaan

Lagu "Maju Tak Gentar" lahir dari perjuangan masa pendudukan Jepang, berubah menjadi simbol perlawanan kemerdekaan, dan tetap menjadi penggerak semangat nasional hingga kini.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 09.31 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Lagu "Maju Tak Gentar" dan Perjalanan Semangat Kebangsaan
Foto: ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Lagu berjudul "Maju Tak Gentar" lahir pada tahun 1944 sebagai ciptaan Cornel Simanjuntak, yang pada masa itu menyusunnya dalam konteks propaganda saat Indonesia berada di bawah pendudukan Jepang. Awalnya, lagu ini diberi judul "Maju Putera-Puteri Indonesia", menggambarkan harapan dan tekad generasi muda untuk membangun identitas bangsa. Namun, seiring pergeseran sejarah, ketika Indonesia memasuki masa revolusi kemerdekaan pada 1945, lirik dan makna lagu tersebut mengalami transformasi signifikan.

Dari sebuah lagu bernuansa perkenalan generasi muda, "Maju Tak Gentar" berubah menjadi narasi perjuangan yang penuh semangat pantang menyerah. Lirik seperti "Maju tak gentar membela yang benar" dan "Maju serentak mengusir penyerang" menjadi seruan kolektif bagi rakyat yang berjuang mempertahankan kemerdekaan. Lagu ini kemudian digunakan secara luas dalam kegiatan baris-berbaris, pertemuan pemuda, serta upacara kebangsaan, menjadi alat pemersatu yang efektif.

Cornel Simanjuntak, sang pencipta, bukan hanya seorang komposer, tetapi juga pejuang aktif yang memanfaatkan seni musik sebagai senjata moral. Ia aktif dalam gerakan pemuda dan memanfaatkan lagu sebagai alat mobilisasi semangat. Meski wafat pada 1946, karyanya tetap hidup dalam ingatan bangsa. Dalam berbagai kurikulum pendidikan, lirik lagu ini tercatat sebagai bagian penting dari pembelajaran seni budaya dan nilai kebangsaan.

Makna utama "Maju Tak Gentar" terletak pada keberanian kolektif, persatuan, dan tekad tak goyah dalam membela kebenaran. Pesan itu tidak hanya relevan di masa lalu, tetapi terus dihidupkan dalam peringatan kemerdekaan, pelatihan kepemimpinan, dan pendidikan karakter. Lagu ini menjadi simbol abadi bahwa kekuatan sejati terletak pada kesatuan rakyat yang tidak gentar menghadapi tantangan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya