Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Lagu Satu Nusa Satu Bangsa, Simbol Persatuan dari Era Perjuangan

Lagu ciptaan Liberty Manik pada 1947 menjadi representasi semangat persatuan Indonesia yang terus hidup dalam berbagai kegiatan kebangsaan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 09.30 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Lagu Satu Nusa Satu Bangsa, Simbol Persatuan dari Era Perjuangan
Foto: ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Lagu "Satu Nusa Satu Bangsa" lahir dari perjuangan bangsa yang sedang mempertahankan kemerdekaan, tepat pada tahun 1947. Diciptakan oleh Liberty Manik, karya ini langsung dipublikasikan melalui siaran radio dan sejak itu menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan kebangsaan Indonesia. Melalui lirik yang sederhana namun penuh makna, lagu ini menggambarkan identitas kolektif bangsa: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa sebagai fondasi persatuan.

Lirik pembuka lagu—“Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa kita”—langsung menegaskan prinsip keberagaman yang disatukan dalam satu jiwa nasional. Frasa-frasa seperti “Tanah air pasti jaya” dan “Indonesia pusaka, Indonesia tercinta” menjadi ajakan untuk menjaga dan membela negara dari ancaman internal maupun eksternal. Pesan ini tidak hanya bersifat emosional, tetapi juga menekankan tanggung jawab kolektif dalam memelihara kesatuan.

Karya Liberty Manik ini memiliki kedekatan erat dengan semangat Sumpah Pemuda 1928. Gagasan satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa yang dinyanyikan dalam lagu merupakan pelengkap dari ikrar-ikrar yang menjadi fondasi kesatuan bangsa. Dalam konteks historis, lagu ini menjadi alat edukasi dan pemersatu saat Indonesia masih menghadapi tantangan berat pasca-kemerdekaan.

Hingga kini, lagu tersebut tetap dinyanyikan dalam upacara kenegaraan, peringatan Sumpah Pemuda, dan kegiatan pendidikan. Keberadaannya sebagai lagu nasional menunjukkan daya hidup pesan yang sama: bahwa keberagaman Indonesia bukan penghalang, melainkan kekuatan yang disatukan oleh satu tujuan. Liberty Manik, yang lahir di Sumatera Utara pada 1924, meninggal dunia pada 1993, namun warisan karyanya tetap hidup sebagai bagian dari identitas kebudayaan nasional.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya