Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Laut Bercerita Siap Rilis 29 Oktober 2026

Film adaptasi novel Leila S. Chudori akan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 29 Oktober 2026, dengan pengambilan cerita langsung dari novel tanpa kaitan produksi dengan versi pendek sebelumnya.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 14.25 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Laut Bercerita Siap Rilis 29 Oktober 2026
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Film Laut Bercerita resmi dijadwalkan tayang di seluruh layar bioskop Tanah Air mulai 29 Oktober 2026. Pengumuman ini disertai dengan peluncuran poster resmi dan lagu soundtrack utama berjudul *Matilah Kau Mati* yang dibawakan oleh Efek Rumah Kaca. Penayangan pada tanggal tersebut sengaja dipilih sebagai bentuk simbolik, menyusul peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober, menekankan nilai pergerakan dan semangat generasi muda yang menjadi inti cerita.

Produser film, Budi Setyarso, menegaskan bahwa karya ini meski berbentuk fiksi, mengambil latar belakang peristiwa penting pada akhir dekade 1990-an, khususnya periode 1996 hingga 1998. Ia menyampaikan harapan agar dukungan masyarakat terus mengalir, demi memastikan karakter utama, Mas Laut, serta teman-temannya dapat diterima oleh penonton di seluruh Indonesia. Proyek ini, menurutnya, merupakan perjalanan kolektif yang ingin mengangkat kembali memori kolektif melalui narasi pribadi dan politik.

Adaptasi film ini berasal dari novel berjudul sama karya Leila S. Chudori yang pertama kali terbit pada 2017. Sebelumnya, novel tersebut pernah diangkat menjadi film pendek dengan pemeran Reza Rahardian dan Dian Sastrowardoyo. Namun, film panjang yang kini disiapkan merupakan produksi terpisah yang berdiri sendiri. Leila S. Chudori, yang turut menulis skenario, menjelaskan bahwa keinginan mengangkat kisah ini ke layar lebar telah matang sejak novel tersebut menjadi best seller, dengan banyak penawaran dari berbagai rumah produksi.

Proses penggarapan film panjang ini berbeda secara substantif dari versi pendek, termasuk dalam aspek produksi, kepemimpinan, dan pemilihan pemain. Meski sebagian aktor dari film pendek turut terlibat, seluruh elemen produksi—mulai dari produser hingga eksekutif produser—berbeda. Leila menegaskan bahwa film ini didasarkan langsung pada novel, bukan sebagai kelanjutan dari film pendek. Tujuannya adalah menyajikan kembali kisah dengan pendekatan yang lebih utuh dan mendalam.

Sutradara Yosep Anggi Noen menekankan bahwa film ini bukan sekadar narasi politik, tetapi juga eksplorasi emosional, persahabatan, dan ketidakpastian dalam masa transisi sejarah. Ia menyebut upaya untuk menangkap nuansa perasaan—duka, harapan, kehangatan—yang menjadi inti dari pengalaman manusia. Dengan latar masa Orde Baru, film ini menawarkan pendekatan artistik yang memadukan puisi, kenangan, dan realitas sosial, menghadirkan kisah yang personal namun relevan secara historis.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya