Senin, 14 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Leni Bangkit dari Kegagalan, Wujudkan Bank Sampah di Tepi Danau

Perempuan asal Jambi yang sempat kehilangan mimpi atlet kini jadi panutan lewat bank sampah dan ekosistem keuangan inklusif.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 14 September 2026, 15.28 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 3x dibuka
Leni Bangkit dari Kegagalan, Wujudkan Bank Sampah di Tepi Danau📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Leni, yang dulunya pernah bermimpi membawa harum nama Jambi di kancah dayung nasional, kini memilih berjuang di tengah danau yang tercemar. Setelah kehilangan peluang berlaga karena kondisi kesehatan anaknya, ia memutuskan kembali ke Danau Sipin—bukan untuk berlomba, melainkan memulihkan alam yang telah terlantar. Dari sana, lahir Dayung Habibah, sebuah inisiatif yang menggabungkan jejak atletiknya dengan nama anaknya, Habibah, sebagai simbol harapan baru.

Awalnya, usahanya dianggap remeh oleh warga sekitar, terutama saat anak-anak ikut mengumpulkan sampah. Tantangan sosial dan minimnya dukungan memaksa Leni berhenti sejenak, namun kegigihan tak pernah padam. Pada 2018, ia menemukan titik terang melalui program pembiayaan ultra mikro tanpa agunan yang dikelola lembaga pembiayaan nasional. Modal awal Rp2,5 juta tumbuh menjadi Rp10 juta, memungkinkan pengolahan sampah berjalan terus dan menciptakan empat pekerja tetap.

Kini, dari 15 perempuan awal, kelompok ini berkembang menjadi pusat pemberdayaan ekonomi lokal. Leni tidak hanya menjadi pengelola bank sampah, tetapi juga agen BRILink Mekaar, membantu warga bayar listrik dan biaya sekolah tanpa harus jauh ke kota. Ia pun mulai menabung emas melalui Tabungan Emas Pegadaian, memastikan masa depan keluarganya lebih terjamin. Prestasi ini pun diakui dengan penghargaan Kalpataru, simbol pengabdian terhadap lingkungan.

Kisah Leni menjadi bagian dari perjalanan lebih besar: terbentuknya Holding Ultra Mikro lima tahun lalu melalui sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM. Visinya bukan sekadar ekosistem keuangan besar, melainkan transformasi dari akses keuangan menuju pemberdayaan, lalu ke kesejahteraan. Menurut Hery Gunardi, fondasi lima tahun pertama telah terbangun, kini fokus pada inklusivitas dan dampak nyata bagi masyarakat. Kindaris menegaskan, pemberdayaan sejati adalah menuntun seseorang kembali berdiri—dan Leni adalah bukti nyata dari perjuangan yang tak pernah sia-sia.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya