Liburan Bermakna Jadi Prioritas Wisatawan Asia-Pasifik
Riset terbaru menunjukkan tren perjalanan pelan dan bermakna kian dominan di Asia-Pasifik, didorong keinginan menghindari kelelahan dan mencari pengalaman autentik.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 05.31 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kendari, ıNarasikita - Perilaku wisatawan di kawasan Asia-Pasifik mengalami perubahan signifikan dalam lima tahun terakhir, dengan dominasi gaya perjalanan yang lebih pelan dan mendalam. Beralih dari model fast travel yang padat, kini mayoritas pelancong memilih menghabiskan waktu lebih lama di satu destinasi untuk menikmati kekayaan alam, budaya, dan kuliner secara utuh. Temuan ini muncul dari laporan Travel Happiness Index 2026 yang merangkum data dari 10.136 responden berusia 21 tahun ke atas di sepuluh pasar utama di wilayah tersebut, dilakukan pada bulan Mei 2026.
Hasil riset mengungkapkan bahwa perjalanan yang terlalu padat justru berdampak negatif terhadap kesejahteraan mental. Sebanyak 79 persen wisatawan asal Korea Selatan, 71 persen dari India, dan 64 persen dari Jepang melaporkan merasa cemas dan tertekan saat liburan. Secara keseluruhan, hampir tiga dari sepuluh wisatawan mengalami kelelahan setelah perjalanan, sementara satu dari lima merasa terbebani untuk terus bergerak tanpa jeda yang cukup. Kondisi ini mendorong pergeseran preferensi terhadap pengalaman yang lebih seimbang dan menyenangkan secara emosional.
Untuk menjaga kualitas liburan, 73 persen responden kini memilih memperlambat ritme perjalanan dengan tinggal lebih lama di satu tempat. Fokus utama mereka bergeser dari jumlah tempat yang dikunjungi ke kualitas pengalaman: menikmati pemandangan alam, mencicipi makanan khas daerah, serta menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga. Lebih dari tiga perempat responden juga memilih menginap di akomodasi berbasis komunitas, seperti rumah warga lokal, demi mendapatkan keaslian dan kedekatan budaya yang tak bisa diraih di hotel bintang lima.
Di tengah tantangan seperti fluktuasi cuaca dan kenaikan biaya perjalanan, sembilan dari sepuluh wisatawan tetap menunjukkan fleksibilitas dengan menyesuaikan jadwal, mempersingkat durasi perjalanan, atau mencari alternatif destinasi. Dukungan teknologi menjadi kunci utama dalam adaptasi ini, dengan 84 persen responden menggunakan perangkat digital untuk perencanaan dan 88 persen merasa lebih yakin ketika memanfaatkan platform pemesanan yang terpercaya. Teknologi tidak hanya memudahkan, tetapi juga memberi rasa aman dan kontrol dalam perjalanan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

PMI Manufaktur RI Masih di Zona Kontraksi
Aktivitas industri manufaktur Indonesia mengalami penurunan pada Agustus 2026, tercatat di level 49,8, menunjukkan penurunan aktivitas produksi.
9 September 2026

Imos 2026 Siap Hadirkan Solusi Mobilitas Modern di Tangerang
Pameran sepeda motor terbesar Tanah Air bakal digelar 20–29 November 2026 di ICE BSD City, menawarkan inovasi teknologi dan beragam solusi mobilitas produktif bagi masyarakat.
8 September 2026

Dana Desa Rp40 T Siap Lunasi Cicilan Kopdes Merah Putih
Pemerintah menjamin pembayaran cicilan proyek Koperasi Desa Merah Putih tidak akan membebani bank negara berkat alokasi dana desa Rp40 triliun per tahun selama enam tahun.
8 September 2026

237 SPBU di Jatim, Bali, NTB, dan NTT Diberi Sanksi BBM Subsidi
Pertamina menerapkan sanksi terhadap 237 SPBU di lima wilayah karena pelanggaran penyaluran BBM bersubsidi hingga September 2026.
8 September 2026
Berita Lainnya

Abu Vulkanik Anak Krakatau Picu Iritasi Kulit, Ini Penjelasannya
Rabu, 9 September 2026, 07.45 WITA

Dua Masker Lebih Efektif? Ini Penjelasan Dokter Paru
Rabu, 9 September 2026, 07.44 WITA

Perlindungan Anabul Saat Hujan Abu Vulkanik
Rabu, 9 September 2026, 07.44 WITA

Lima Langkah Tangani Paparan Abu Vulkanik Secara Aman
Rabu, 9 September 2026, 07.43 WITA

Paparan Abu Vulkanik dan Risiko Silikosis, Ini Penjelasan Ahli
Rabu, 9 September 2026, 07.43 WITA

PAG Disejajarkan Singapura sebagai Pusat LNG Asia
Rabu, 9 September 2026, 07.37 WITA

Bandara Soekarno-Hatta dan Lokasi Lain Segera Beroperasi Kembali
Rabu, 9 September 2026, 07.37 WITA

Indonesia Pionir B50, Eropa dan Jepang Pelajari Skema Suksesnya
Rabu, 9 September 2026, 07.36 WITA


