Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Liburan Bermakna Jadi Prioritas Wisatawan Asia-Pasifik

Riset terbaru menunjukkan tren perjalanan pelan dan bermakna kian dominan di Asia-Pasifik, didorong keinginan menghindari kelelahan dan mencari pengalaman autentik.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 05.31 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Liburan Bermakna Jadi Prioritas Wisatawan Asia-Pasifik
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Perilaku wisatawan di kawasan Asia-Pasifik mengalami perubahan signifikan dalam lima tahun terakhir, dengan dominasi gaya perjalanan yang lebih pelan dan mendalam. Beralih dari model fast travel yang padat, kini mayoritas pelancong memilih menghabiskan waktu lebih lama di satu destinasi untuk menikmati kekayaan alam, budaya, dan kuliner secara utuh. Temuan ini muncul dari laporan Travel Happiness Index 2026 yang merangkum data dari 10.136 responden berusia 21 tahun ke atas di sepuluh pasar utama di wilayah tersebut, dilakukan pada bulan Mei 2026.

Hasil riset mengungkapkan bahwa perjalanan yang terlalu padat justru berdampak negatif terhadap kesejahteraan mental. Sebanyak 79 persen wisatawan asal Korea Selatan, 71 persen dari India, dan 64 persen dari Jepang melaporkan merasa cemas dan tertekan saat liburan. Secara keseluruhan, hampir tiga dari sepuluh wisatawan mengalami kelelahan setelah perjalanan, sementara satu dari lima merasa terbebani untuk terus bergerak tanpa jeda yang cukup. Kondisi ini mendorong pergeseran preferensi terhadap pengalaman yang lebih seimbang dan menyenangkan secara emosional.

Untuk menjaga kualitas liburan, 73 persen responden kini memilih memperlambat ritme perjalanan dengan tinggal lebih lama di satu tempat. Fokus utama mereka bergeser dari jumlah tempat yang dikunjungi ke kualitas pengalaman: menikmati pemandangan alam, mencicipi makanan khas daerah, serta menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga. Lebih dari tiga perempat responden juga memilih menginap di akomodasi berbasis komunitas, seperti rumah warga lokal, demi mendapatkan keaslian dan kedekatan budaya yang tak bisa diraih di hotel bintang lima.

Di tengah tantangan seperti fluktuasi cuaca dan kenaikan biaya perjalanan, sembilan dari sepuluh wisatawan tetap menunjukkan fleksibilitas dengan menyesuaikan jadwal, mempersingkat durasi perjalanan, atau mencari alternatif destinasi. Dukungan teknologi menjadi kunci utama dalam adaptasi ini, dengan 84 persen responden menggunakan perangkat digital untuk perencanaan dan 88 persen merasa lebih yakin ketika memanfaatkan platform pemesanan yang terpercaya. Teknologi tidak hanya memudahkan, tetapi juga memberi rasa aman dan kontrol dalam perjalanan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya