Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Oasis Reuni Setelah 15 Tahun, Dokumenter Ungkap Proses Damai

Dokumenter Oasis: Don't Look Back In Anger menampilkan rekonsiliasi Liam dan Noel Gallagher sebelum tur Live '25, dengan peran kunci anak-anak mereka sebagai penengah hubungan yang sempat retak.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 9 September 2026, 07.22 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Oasis Reuni Setelah 15 Tahun, Dokumenter Ungkap Proses Damai
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Dokumenter terbaru berjudul *Oasis: Don't Look Back In Anger*, yang diputar perdana di Venice Film Festival 2026, mengungkap proses pemulihan hubungan antara dua saudara musisi legendaris, Liam dan Noel Gallagher, setelah perpisahan panjang selama 15 tahun. Film yang disutradarai oleh Steven Knight ini tidak hanya menyoroti kembali kejayaan band, tetapi juga menekankan bagaimana interaksi spontan antara anak-anak mereka menjadi kunci pemulihan hubungan yang sebelumnya penuh ketegangan.

Momen awal pertemuan keduanya dalam proses latihan tur Live '25 tercatat sebagai momen tegang, ketika Liam langsung menyuarakan ketidaknyamanannya terhadap perangkat akustik di sekitar drum dengan gerutuan. Ia pun menyanyi tanpa berdialog, lalu pergi tanpa ucapan selamat tinggal. Namun, perubahan dramatis terjadi saat anak-anak dari keduanya—yang sebelumnya tidak saling mengenal—mulai berinteraksi, membentuk ikatan persahabatan yang tulus.

Keterlibatan generasi muda ini menjadi pusat narasi dalam film, menunjukkan bagaimana kehangatan dan kebersamaan di level keluarga mampu mencairkan ketegangan yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kehadiran keduanya bersama di Venice Film Festival, tampil berdampingan dari atas perahu, menegaskan rekonsiliasi yang telah terjadi secara nyata. Gerakan tangan ke arah penggemar di tepi pelabuhan menjadi simbol kebangkitan bersama yang penuh harapan.

Film ini juga mengungkap sisi personal kedua musisi, termasuk perjuangan Liam mengatasi kebiasaan konsumsi alkohol dan rokok selama tur, serta ketakutan batin yang menghantui Noel saat kembali tampil di panggung setelah vakum lebih dari satu dekade. Dengan menggabungkan momen-momen emosional dan nostalgia, dokumenter ini menunjukkan bahwa kekuatan Oasis bukan hanya dari lagu-lagu ikonik, tetapi juga dari kemampuan mereka membangun kembali ikatan yang terluka.

Dalam konteks industri musik, film dokumenter seperti ini menunjukkan tren baru yang menguntungkan, di mana tur konser diabadikan dalam bentuk media visual untuk menjangkau audiens global. Seperti proyek sebelumnya oleh Taylor Swift dan Beyoncé, dokumenter Oasis juga menjadi sarana alternatif bagi penggemar yang tak sempat hadir, sekaligus memperkuat nilai ekonomi dari karya seni musik.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya