Makan Cepat, Risiko Kesehatan Menanti
Makan terlalu cepat berpotensi memicu gangguan pencernaan, penyerapan nutrisi buruk, lonjakan gula darah, dan peningkatan risiko obesitas serta diabetes tipe 2.
Redaksi iNarasikita·Minggu, 25 Oktober 2026, 09.01 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 ANTARAKendari, ıNarasikita - Orang yang terbiasa makan dengan cepat umumnya menyelesaikan santapan dalam waktu kurang dari 20 menit, jauh lebih singkat dibandingkan dengan mereka yang mengunyah secara perlahan. Kebiasaan ini sering disertai dengan tidak mengunyah makanan secara cukup, tidak memberi jeda antarsuapan, serta menelan makanan sebelum benar-benar siap. Akibatnya, tubuh tidak sempat mengirim sinyal kenyang ke otak, yang membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk merespons.
Ketidakseimbangan ini berdampak langsung pada sistem pencernaan. Makan terburu-buru meningkatkan risiko menelan udara, yang dapat menyebabkan kembung dan penumpukan gas di saluran cerna. Meski belum ada bukti kuat bahwa kecepatan makan langsung menyebabkan gangguan seperti GERD, pola makan cepat tetap menjadi faktor pemicu ketidaknyamanan perut dan gangguan pencernaan ringan hingga berat.
Proses penyerapan nutrisi juga terganggu karena makanan tidak cukup terurai di mulut sebelum masuk ke lambung. Ketika makanan tidak diunyah dengan baik, enzim pencernaan bekerja lebih berat, sehingga efisiensi penyerapan vitamin, mineral, dan zat gizi lainnya menurun. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menyebabkan defisiensi nutrisi meskipun asupan makanan cukup.
Ketika makan dilakukan dengan cepat, kadar glukosa darah cenderung naik lebih cepat dan lebih tinggi dibandingkan dengan makan perlahan. Penelitian menunjukkan bahwa individu yang menyelesaikan makan dalam waktu kurang dari 10 menit mengalami lonjakan gula darah lebih signifikan dibanding yang makan selama 20 menit. Kondisi ini membebani pankreas dalam memproduksi insulin, dan berulang kali terjadi dapat meningkatkan risiko resistensi insulin dan diabetes tipe 2.
Pola makan cepat juga berkontribusi pada peningkatan asupan kalori secara tidak sadar. Karena tubuh tidak merasa kenyang dalam waktu singkat, seseorang cenderung terus makan hingga melebihi kebutuhan energi. Lama kelamaan, kebiasaan ini menimbulkan penumpukan lemak tubuh dan berdampak langsung pada kenaikan berat badan. Oleh karena itu, mengubah kebiasaan makan menjadi lebih perlahan dan sadar menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan jangka panjang.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

13 Siswi SMP di Ciputat Diduga Jadi Korban Perundungan Berat
Belasan siswi SMP di Ciputat diduga mengalami perundungan berupa pemalakan dan paksa minum campuran kopi, cuka, dan bawang putih, menyebabkan tiga korban harus dirawat di rumah sakit.
25 Oktober 2026

14 Siswi SMP Tangsel Diduga Dicoklati Minuman Berbahaya
Polisi bergerak cepat menangani dugaan perundungan dan pemerasan terhadap 14 siswi SMP Negeri 10 Tangsel, termasuk kasus paksa minum racikan yang menyebabkan tiga korban dirawat.
24 Oktober 2026

Festival Jajanan Bango 2026 Dorong Pertumbuhan UMKM Kuliner
Festival Jajanan Bango 2026 digelar di Hutan Kota GBK Jakarta, menampilkan lebih dari 50 pelaku UMKM kuliner untuk memperluas akses pasar dan memperkuat ekosistem kreatif generasi muda.
24 Oktober 2026

Nex Carlos Jajal Inovasi Kuliner Lokal di FJB 2026
Kreator makanan Nex Carlos menikmati beragam sajian unik dari Festival Jajanan Bango 2026, menyoroti keberhasilan paduan rasa lokal dan global dalam kreasi kuliner modern.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Transformasi Energi Indonesia Menapaki Jalur Kemandirian
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.30 WITA

Penghapusan Insentif Flat Hemat Rp3 Triliun untuk MBG
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.29 WITA

Lula dan Flavio Bolsonaro Saling Serang di Debat Akhir Pemilu
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.09 WITA

Koneksi Starlink Stabil di Kecepatan 400 km/Jam, Ungkap Menteri Pertahanan Ukraina
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.08 WITA

Penyintas Serangan Gereja Yordania Ungkap Detik-detik Pelaku Arahkan Pistol
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.07 WITA

RI Kurangi Ekspor Gas ke Singapura, Dampaknya Di Bawah 2 Persen
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.07 WITA

Richard Lee: Jangan Lawan Iblis dengan Logika
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.06 WITA

Houthi Negasi Serangan ke Makkah dan Madinah, Sebut Klaim Saudi Bohong
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.06 WITA

