Minggu, 13 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Mantan Menteri Agama Jualan Beras di Glodok, Keluarga Tak Tahu

Mantan Menteri Agama RI Saifuddin Zuhri, yang menjabat 1962–1967, memilih berdagang beras di Pasar Glodok pada era 1980-an, menyembunyikan profesi tersebut dari keluarga hingga terbongkar secara tak sengaja.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 13 September 2026, 07.34 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Mantan Menteri Agama Jualan Beras di Glodok, Keluarga Tak Tahu📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai Menteri Agama RI pada 1967, Saifuddin Zuhri memilih hidup sederhana tanpa mengandalkan fasilitas negara. Meski pernah aktif dalam politik sebagai anggota DPR-GR dan DPR hasil Pemilu 1971, ia memilih mundur dari dunia publik secara total setelah pensiun. Kehidupan sehari-hari yang dilakoninya jauh dari kemewahan, bahkan mengandalkan usaha kecil untuk menopang kehidupan.

Pada awal dekade 1980-an, ia mulai berjualan beras di Pasar Glodok, Jakarta. Setiap pagi, sekitar pukul 09.00 WIB, setelah menunaikan salat Dhuha, ia menyetir mobil sendiri untuk mengangkut karung beras dari gudang ke tempat jualan. Kegiatan itu dilakoninya secara konsisten hingga menjadi rutinitas harian. Ia bahkan menyembunyikan profesi barunya dari istri dan anak-anaknya, yang hanya tahu bahwa ia pulang setiap hari dengan uang, tanpa mengetahui sumber penghasilannya.

Kebocoran rahasia terjadi ketika salah satu putranya secara kebetulan melihat ayahnya sedang melayani pembeli di pasar. Kejutan itu mengejutkan keluarga, karena sosok yang dikenal sebagai tokoh nasional kini terlibat dalam aktivitas pedagang kecil. Namun, bagi Saifuddin, berdagang bukanlah hal baru. Dalam memoir-nya, *Berangkat dari Pesantren* (1984), ia mengungkapkan pernah menjual barang bekas, pakaian, dan rokok untuk bertahan hidup saat anak pertamanya lahir pada 1942.

Prinsip kesederhanaan dan integritas telah menjadi dasar hidupnya sejak menjabat menteri. Ia menolak rumah dinas meskipun diusulkan berkali-kali, dengan alasan bahwa menteri agama yang serakah akan menjadi contoh buruk bagi publik. Ia memilih tinggal di rumah pribadi di Kebayoran Baru dan bahkan memilih mencicil rumah sendiri di Jalan Hang Tuah. Setelah lunas, ia menghibahkan rumah tersebut untuk kepentingan Nahdlatul Ulama, menegaskan komitmen pada nilai kemanusiaan dan keberlanjutan sosial.

Saifuddin Zuhri wafat pada 25 Februari 1986 setelah berjuang melawan penyakit. Meski sudah puluhan tahun berlalu, teladan hidupnya—dengan kejujuran, kemandirian, dan penolakan terhadap kemewahan—tetap menjadi inspirasi bagi generasi pejabat dan masyarakat luas. Ia menunjukkan bahwa kehormatan jabatan bukan diukur dari fasilitas, melainkan dari integritas dan kesederhanaan yang konsisten.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya