Kamis, 24 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Mengunyah Es Batu Bisa Jadi Tanda Anemia, Ini Penjelasannya

Kebiasaan mengunyah es batu secara berlebihan sering kali merupakan gejala anemia defisiensi besi, bukan penyebabnya, dan perlu penanganan medis segera.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 24 September 2026, 12.00 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Mengunyah Es Batu Bisa Jadi Tanda Anemia, Ini Penjelasannya📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Kebiasaan mengunyah es batu secara intensif, meski terlihat sepele, dapat menjadi tanda peringatan dini adanya anemia defisiensi besi. Fenomena ini dalam dunia kedokteran dikenal sebagai pagofagia, bentuk dari gangguan makanan kompulsif yang disebut pica. Bukan es batu yang menyebabkan anemia, melainkan kebiasaan tersebut sering muncul sebagai respons tubuh terhadap kekurangan zat besi yang mengganggu produksi sel darah merah.

Penderita anemia defisiensi besi kerap mengalami gejala seperti kelelahan kronis, pusing, dan kesulitan berkonsentrasi. Sensasi dingin dan tekstur keras dari es batu dinilai bisa membantu meningkatkan sirkulasi darah ke otak secara sementara, sehingga memberi efek segar dan peningkatan kewaspadaan. Selain itu, es batu juga berfungsi meredakan rasa nyeri atau peradangan pada lidah yang kerap terjadi akibat glossitis, kondisi umum pada penderita anemia.

Namun, kebiasaan ini tidak bebas risiko. Konsumsi berulang es batu dapat merusak enamel gigi, menyebabkan keretakan, sensitivitas, bahkan patah gigi. Jika es dibuat dari air yang tidak steril, risiko infeksi bakteri seperti E. coli atau Salmonella juga meningkat, berpotensi menimbulkan gangguan pencernaan. Lebih berbahaya lagi, mengunyah es batu hanya menutupi gejala tanpa menyelesaikan akar masalah, yaitu kekurangan zat besi dalam tubuh.

Tanda-tanda yang harus menjadi peringatan antara lain mudah lelah, kulit pucat, mata kelopak terlihat pucat, atau sesak napas saat beraktivitas ringan. Jika kebiasaan mengunyah es batu sulit dihentikan, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter. Pemeriksaan laboratorium darah, termasuk tes kadar hemoglobin dan feritin, diperlukan untuk konfirmasi diagnosis.

Ketika kadar zat besi kembali normal melalui asupan makanan bergizi atau suplemen sesuai anjuran, kebiasaan mengunyah es batu biasanya berkurang atau hilang dengan sendirinya. Penanganan dini sangat penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang dan memulihkan kualitas hidup pasien.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya