Kamis, 17 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Menkeu Baru Tantang Kesehatan Fiskal di Tengah Tuntutan Program Prioritas

Suahasil Nazara resmi dilantik sebagai Menteri Keuangan, dengan fokus utama menjaga defisit APBN di bawah 3% dan memastikan kredibilitas keuangan negara tetap terjaga.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 17 September 2026, 11.30 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Menkeu Baru Tantang Kesehatan Fiskal di Tengah Tuntutan Program Prioritas📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Presiden Prabowo Subianto secara resmi melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan dalam rangkaian pelantikan kabinet di Istana Merdeka, Senin (14/9). Keputusan ini tertuang dalam Keputusan Presiden RI Nomor 97p Tahun 2026 yang menetapkan pergantian jabatan dari Purbaya Yudhi Sadewa. Dalam sambutannya usai pelantikan, Suahasil menegaskan komitmen menjaga kesehatan dan kredibilitas APBN sebagai fondasi utama stabilitas ekonomi nasional. Ia menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan fiskal sambil tetap mendukung pelaksanaan program prioritas pemerintah.

Salah satu komitmen utama yang disampaikan Suahasil adalah menjaga defisit anggaran tetap berada di bawah ambang batas 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB), sesuai ketentuan Undang-undang Keuangan Negara. Langkah ini menjadi penekanan strategis untuk menjaga kredibilitas fiskal jangka panjang. Ia menyatakan bahwa keberhasilan ini tidak hanya bergantung pada pengelolaan belanja, tetapi juga pada peningkatan penerimaan negara secara berkelanjutan.

Analis Senior ISEAI, Ronny P. Sasmita, mengidentifikasi empat tantangan krusial yang menanti Menkeu baru. Pertama, menjaga kesehatan APBN dengan mengendalikan defisit, utang, dan kualitas pengeluaran. Kedua, meningkatkan penerimaan tanpa menekan daya saing dunia usaha. Ketiga, memastikan program strategis tetap berjalan tanpa mengorbankan ruang fiskal. Keempat, membangun kepastian kebijakan fiskal agar investor dan pasar kembali percaya.

Ronny menilai Suahasil memiliki kapasitas teknokratis yang kuat, mengingat pengalamannya sebagai Wakil Menteri Keuangan yang lama. Namun, tantangan utamanya bukan pada pemahaman teknis, melainkan pada keberanian mengambil keputusan tegas—termasuk menolak kebijakan yang berisiko terhadap kesehatan keuangan negara. Ia menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan utang tak hanya soal batasan, tetapi juga pada keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, biaya bunga, dan penggunaan utang untuk investasi produktif, bukan hanya menutup defisit rutin.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya