Senin, 26 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Menlu Iran Sebut Netanyahu Licik, Goda AS untuk Perang

Menteri Luar Negeri Iran mengecam Netanyahu sebagai 'ular' yang menipu AS demi memicu perang melawan Iran, dengan menyebut aksi tersebut sebagai manipulasi jangka panjang melalui media.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.39 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Menlu Iran Sebut Netanyahu Licik, Goda AS untuk Perang📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu digambarkan sebagai sosok yang licik dan menipu dalam upaya membangkitkan konflik dengan Iran. Dalam pernyataan di platform media sosial, Araghchi menyatakan bahwa Netanyahu secara terbuka mengaku telah memengaruhi pemerintahan Amerika Serikat untuk melancarkan serangan terhadap Iran atas nama kepentingan Israel. Ungkapan itu disampaikan dengan nada tajam, menyoroti bagaimana kebijakan militer AS di kawasan dipengaruhi oleh narasi yang dibangun secara strategis dari dalam negeri Israel.

Araghchi menekankan bahwa Netanyahu tidak hanya memanfaatkan akses ke media negara selama ribuan jam siaran, tetapi juga memanipulasi persepsi publik internasional. Ia menyebut bahwa dalam bahasa Inggris, Netanyahu menggambarkan dirinya sebagai pemimpin yang berhasil mengarahkan kebijakan luar negeri AS, yang kemudian diartikan sebagai tindakan pengkhianatan terhadap prinsip kebijakan luar negeri yang seharusnya netral. Kata "serpent" yang digunakan Araghchi mengandung makna simbolik kuat, merujuk pada makhluk berbisa dalam tradisi agama dan sastra kuno yang melambangkan kecurangan dan godaan.

Peristiwa ini muncul dalam konteks ketegangan yang terus berkecamuk antara Amerika Serikat dan Iran, yang sempat mencapai puncak pada akhir Februari lalu saat operasi militer AS dan Israel dilancarkan secara intensif terhadap target strategis di Iran. Operasi tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, beserta sejumlah pejabat tinggi pertahanan. Setelah kejadian itu, kepemimpinan negara berpindah ke putranya, Mojtaba Khamenei, yang secara konstitusional mengambil alih tampuk kekuasaan.

Meski pada April terjadi gencatan senjata dan pada Juni tercapai kesepakatan kerja sama, ketegangan kembali memanas akibat ancaman berulang dari pihak AS. Beberapa ancaman terbukti menjadi serangan nyata, termasuk serangan terhadap infrastruktur sipil seperti jembatan, yang secara hukum dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang. Kini, Pakistan—sebagai mediator utama—berupaya membangun dialog antara kedua belah pihak untuk mencapai perdamaian permanen, namun hingga saat ini belum ada langkah konkret menuju negosiasi baru.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya