Senin, 26 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Mojtaba Khamenei Soroti Kemandirian Ekonomi Hadapi Sanksi

Pemimpin Tertinggi Iran menekankan pentingnya produksi dalam negeri dan persatuan nasional untuk mengatasi tekanan ekonomi akibat sanksi internasional.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.42 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Mojtaba Khamenei Soroti Kemandirian Ekonomi Hadapi Sanksi📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa kunci mengatasi krisis ekonomi terletak pada peningkatan kapasitas produksi dalam negeri, sekaligus mengurangi ketergantungan pada dolar global. Pernyataan ini disampaikan dalam kesempatan peringatan Pekan Pemerintah, yang jatuh pada tanggal 30 Agustus, sekaligus mengenang para pemimpin korban pengeboman tahun 1981. Ia menyoroti bahwa sanksi ekonomi yang diterapkan oleh Amerika Serikat tidak hanya sebagai alat tekanan, tetapi juga tantangan strategis yang harus dijawab dengan kebijakan tahan banting dan inovasi nasional.

Mojtaba menekankan perlunya pendekatan bijak dalam impor, bukan sebagai solusi utama, melainkan sebagai penunjang ketika produksi dalam negeri belum mencukupi. Ia menilai bahwa keberhasilan Iran dalam menghadapi agresi ekonomi selama enam bulan terakhir membuktikan ketangguhan sistem yang dibangun atas dasar otonomi dan kemandirian. Dalam konteks ini, ia memuji pemerintahan Presiden Masoud Pezeshkian yang dinilai mampu menangani kebutuhan pokok masyarakat meski menghadapi blokade dan tekanan politik.

Ia menekankan bahwa keberhasilan pembangunan tidak terletak pada meniru model asing, melainkan pada pengelolaan sumber daya dan kapasitas lokal secara optimal. Menurutnya, sejarah menunjukkan bahwa pendekatan eksternal yang diusung lawan justru merusak kepentingan Iran dalam jangka panjang. Oleh karena itu, ia menyerukan agar seluruh elemen masyarakat, terutama kalangan muda dan para ahli, turut berperan dalam menghadirkan inovasi dan transformasi sistemik.

Mojtaba juga menekankan pentingnya menjaga persatuan nasional sebagai fondasi utama. Ia memperingatkan bahwa perpecahan yang diciptakan melalui narasi seperti “perang vs negosiasi” atau “kompromi vs penghasutan” justru berpotensi merugikan rakyat. Ia menegaskan bahwa setiap tindakan yang merusak kohesi sosial dilarang keras. Dalam hal ini, sektor pendidikan, budaya, dan pengasuhan anak menjadi prioritas, dengan penghargaan khusus diberikan kepada guru, dokter, perawat, dan ibu rumah tangga sebagai garda depan pembentukan karakter bangsa.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya