Kamis, 17 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Musikus Global Serukan Kemerdekaan Palestina

Banyak musisi internasional menunjukkan dukungan nyata terhadap Palestina melalui karya, aksi panggung, dan keputusan profesional, menolak keterlibatan dengan sistem yang dianggap mendukung kolonialisme.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 17 September 2026, 15.21 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Musikus Global Serukan Kemerdekaan Palestina📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Sejumlah seniman dunia kini menjadi wajah baru dalam gerakan solidaritas global terhadap Palestina, dengan menyuarakan keadilan melalui musik dan platform publik. Salah satunya adalah Macklemore, yang pada September 2026 menegaskan posisinya sebagai pendukung Palestina saat tampil sebagai penampil pembuka konser Ed Sheeran. Aksi tersebut memicu reaksi dari pihak tertentu, termasuk pemilik stadion di Amerika yang dikaitkan dengan kebijakan pro-Israel, namun musisi asal Seattle itu tetap konsisten memperjuangkan hak rakyat Palestina.

Lagu-lagu seperti *Hind's Hall* dan *Hind's Hall 2* menjadi medium perlawanan, terinspirasi dari kematian Hind Rajab, anak berusia enam tahun yang gugur akibat serangan militer Israel pada 2024. Kedua karya tersebut tidak hanya menggambarkan tragedi kemanusiaan, tetapi juga menjadi simbol perlawanan terhadap pembersihan etnis. Seluruh pendapatan dari lagu-lagu tersebut disalurkan kepada UNRWA, menunjukkan komitmen moral yang mendalam di balik karya seni.

Dua Lipa turut menunjukkan keberanian dalam menyuarakan dukungan. Ia kerap mengunggah konten yang mengecam operasi militer di Gaza dan memanfaatkan momentum publik untuk menyebarkan kesadaran. Pada ajang Sunny Hill Festival 2025, ia menghadirkan tulisan "Free Palestine" di atas panggung. Bahkan, ia memutuskan hubungan kerja dengan agen lama, David Levy, pada September 2025, menyusul kebijakan industri yang menekan artis yang mendukung Palestina. Baginya, bersuara adalah tanggung jawab moral yang tak bisa dikompromikan.

Roger Waters, pendiri Pink Floyd, tetap aktif dalam perjuangan kemanusiaan meski berusia lanjut. Sejak menyaksikan praktik apartheid Israel pada 2006, ia menjadi tokoh utama dalam gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS). Ia menolak tuduhan antisemitisme yang sering dilekatkan padanya, dan tetap menegaskan bahwa karya seninya menjadi alat perlawanan terhadap mesin perang dan kolonialisme Barat. Sementara itu, grup Kneecap dari Irlandia Utara menempatkan pembebasan Palestina sebagai inti identitas mereka sejak 2023. Melalui konten media sosial dan pertunjukan langsung, mereka menjadi salah satu suara anti-Zionis paling vokal di kancah musik global.

“Media arus utama kerap menyederhanakan konflik menjadi bentrokan antara Israel dan Hamas, tanpa menyentuh realitas genosida yang terjadi,” ujar DJ Próvaí dalam wawancara 2024. Ia menekankan pentingnya memanfaatkan ruang publik untuk menyuarakan narasi yang sering terabaikan. Bagi mereka, musik bukan sekadar hiburan, melainkan alat perlawanan dan kesadaran kolektif.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya