Senin, 26 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Musk Peringatkan Kepunahan Manusia Akibat Kelahiran Rendah Singapura

Elon Musk menanggapi angka kelahiran Singapura yang turun ke 0,87 anak per wanita dengan peringatan bahwa manusia berisiko menghilang jika tren ini terus berlanjut.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.43 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Musk Peringatkan Kepunahan Manusia Akibat Kelahiran Rendah Singapura📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Elon Musk mengungkapkan kekhawatiran mendalam atas tren penurunan angka kelahiran di Singapura yang kini mencapai level terendah sepanjang sejarah, yakni 0,87 anak per wanita. Melalui akun media sosial pribadinya, ia menyampaikan peringatan tegas bahwa tanpa intervensi, umat manusia bisa mengalami kepunahan akibat krisis demografi yang semakin mengancam. Pernyataan tersebut muncul sebagai respons terhadap cuitan dari pengguna lain yang membahas kebijakan pemerintah Singapura dalam menangani fenomena ini.

Musk menegaskan bahwa negara-negara seperti Singapura, yang mengalami penurunan kelahiran drastis, berpotensi menghilang secara perlahan karena populasi yang menua, jumlah tenaga kerja produktif yang menipis, dan sistem sosial yang tidak lagi berkelanjutan. Ia menekankan bahwa kondisi ini bukan hanya persoalan lokal, melainkan indikator global tentang tantangan masa depan kemanusiaan. Pernyataannya yang menyiratkan kepunahan manusia langsung menjadi viral, dilihat lebih dari 7,5 juta pengguna dan mendapat ratusan ribu respons positif.

Komentar Musk bukan kali pertama menyentuh isu ini. Pada Desember 2024, ia juga sempat mengingatkan dunia akan risiko kepunahan akibat kelahiran yang terus menurun di berbagai negara maju, termasuk Singapura. Di tengah perdebatan yang memicu reaksi beragam, sebagian pengguna menyambut peringatannya sebagai kebenaran yang terlupakan, sementara yang lain menekankan faktor ekonomi sebagai akar masalah utama.

Salah satu pengguna menyoroti bahwa tingginya biaya perumahan dan kehidupan menjadi penghambat utama bagi pasangan muda untuk memiliki anak. Menurutnya, kondisi ekonomi yang tidak mendukung secara langsung menekan keputusan keluarga dalam memperluas jumlah anak. Dengan demikian, solusi jangka panjang bukan hanya soal kebijakan kelahiran, tetapi juga stabilitas ekonomi dan akses terhadap fasilitas dasar.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya